Andri yang (Tak) Terlupakan

Mentari menggantung di ubun. Untuk udara sekaliber Bandung, rasanya panas betul siang itu (15/2). Mustandi sudah paham bagaimana kiranya terpaan terik mentari. Meskipun begitu, tak menyurutkan niatnya meletakkan karangan bunga di lokasi terbunuh anak pertamanya.

Ia tergetar. Seorang kerabat membantu memapah. Air mata lalu timbul pada sepasang matanya. Seakan menyirat: Ia tak kuasa menahan kepedihan mendalam. Sejumlah orang lalu mengikutinya dari belakang. Mereka menebar bunga, tepat di tempat yang sama. Suasana di sisi Jalan Setiabudhi, hening sesaat. Doa-doa dipanjatkan.

Ucapan belasungkawa tersebar di setiap sudut kampus UPI

Demikian yang terekam dalam aksi solidaritas Andri Wardiansyah. Sudah lebih dari 40 hari kematian mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu, namun upaya menemukan pelaku pembunuhan belum juga terlihat. “ini udah lebih dari 40 hari, namun belum ada kabar berarti dari kepolisian” Mustandi terpatah-patah berkata.

Datang jauh dari Banten, Mustandi memperjuangkan keadilan anaknya. Namun kematian Andri tidak dirasakan Mustandi sendiri. Ratusan orang dari perhimpunan mahasiswa, organisasi masyarakat asal Banten, dan organisasi intrauniversiter UPI, turut berpartisipasi pada aksi tersebut.

“Kita di sini menuntut pelaku pembunuhan Andri tertangkap. Ini berbicara tentang keselamatan pengendara motor di Bandung” Ali Mahfud, perwakilan mahasiswa UPI berorasi. Koordinator aksi, Arif Wahyudin menuturkan sebelumnya sudah melakukan empat kali aksi ke Mapolrestabes Bandung, namun belum ada perkembangan kasus kematian Andri.

Sementara di sela aksi, seorang massa aksi memeragakan atraksi debus. Ia menebasi golok pada perutnya sendiri. “Siapa yang berani? Ini untuk Andri” katanya. Ciri Banten memang sangat ketara dalam aksi ini, terlebih Andri  merupakan mahasiswa asal Banten. Selebaran dukungan segera tertangkapnya pembunuh Andri pun dibagikan pada tiap pengendara yang melewat.

Atraksi debus mewarnai aksi solidaritas Andri Wardiansyah

Saxofonis itu
Segalanya bermula saat subuh di awal tahun 2012. Tak seperti biasanya, kala itu (1/1) Jalan Setiabudhi lengang dan sedikit pengendara yang melewat. Berdasarkan data kepolisian, sekitar pukul 03:00 WIB, Andri Wardiansyah, Mahasiswa tingkat akhir Jurusan Pendidikan Seni Musik UPI ditemukan terbujur kaku di sisi trotoar dekat Factory Outlet (FO).

Tubuhnya telungkap berlumuran darah akibat satu luka tusukan di dada kiri. Tangan kirinya masih menggenggam ponsel. Helm fullface dan tas ransel hitam miliknya tergeletak di sekitar jasad Andri. Sementara, sepeda motor matic Andri terparkir posisi standar tak jauh dari tubuhnya.

Hanya saxofon miliknya yang raib entah kemana. Andri memang lihai memainkan alat musik sejenis terompet itu. Dan di waktu kejadian, sang saxofonis tengah dalam perjalanan pulang menuju kostan, selepas manggung acara tahun baru di Jatinangor. Maka ketika kematiannya mengeruak, istilah saxofonis melekat dengan nama Andri Wardiansyah.

Sejumlah saksi mata menuturkan, Andri tewas dikeroyok dua orang tak dikenal. Berbagai spekulasi motif pembunuhan Andri mengeruak, mulai dari persoalan cinta, geng motor, sampai persoalan kerja. Belum jelas sampai kini mengarah ke mana.

Berdasar pada ingatan saksi mata, pihak Polrestabes Bandung lantas menyebar sketsa dua orang yang diduga pelaku. Terlepas dari hal tersebut, mahasiswa Seni Musik itu pergi menyisakan kenangan yang tak terlupa.

(Tak) Terlupakan
Kampus UPI yang terletak tak jauh dari tempat kejadian, sontak berbalut duka pada awal 2012. Bukan karena ditinggal mahasiswa yang tengah menikmati pekan sunyi. Tepat Hari Minggu (1/1) kala itu, Seluruh civitas akademik telah kehilangan seorang pemuda penuh potensi.

“Telah berpulang. Rekan kita Andri Wardiansyah, mahasiswa seni musik UPI. Beliau konon tewas dibunuh. Semoga kebenaran selalu menyertainya”. Begitu isi pesan sms yang menyebar ke setiap aktifis kampus dan mahasiswa UPI secara luas.

Kabar duka itu semakin mengeruak kala media massa dan pengguna jejaring sosial ramai mengabarkan. Himpunan Mahasiswa Seni Musik (Hima Semu) UPI, yang menjadi tempat Andri bernaung, lantas mengadakan do’a bersama pada Senin (2/1).

“Ya, Andri aktif di kegiatan yang diadain sama jurusan dan himpunan” ujar Mala Nurul Huda, Bendahara Hima Semu UPI. Dia menambahkan, Andri kerap mengikuti acara semacam bakti sosial untuk masyarakat.

Belum sampai di situ. Pada 13 Februari lalu, sejumlah mahasiswa dan perwakilan Jurusan Pendidikan Seni Musik UPI, mengadakan acara Charity for Andri. Acara diisi dengan doa bersama, penampilan musik, dan mengenal lebih dekat sosok Saxofonis itu. Satu per satu foto Andri ditampilkan pada layar yang terpampang di gedung auditorium, Pusat Kegiatan Mahasiswa UPI.

Suasana sontak berselimut kesedihan. Beberapa orang tampak meneteskan air mata. Aditia Syaeful Bahri, ketua Hima Semu UPI, menuturkan jika Andri orang yang supel, maka wajar banyak orang yang kehilangan. “Orangnya asik diajak ngobrol, walaupun sedikit pendiam” ujarnya.

Berbagai cara dilakukan segenap civitas akademika UPI untuk mengupas tuntas kasus Andri. Seperti menempelkan sketsa dua orang terduga pelaku pembunuhan Andri di setiap titik konsentrasi mahasiswa. Ucapan duka dari berbagai elemen mahasiswa pun terpampang pada baliho di sekitar kampus UPI.

Upaya-upaya tersebut seakan berusaha mengigatkan, agar kematian Andri segera diusut. Jangan sampai hilang dan terlupakan. Satu hal yang perlu dipetik. Kematian Andri merupakan momentum bersama antara mahasiswa, masyarakat, dan penegak hukum dalam memerangi segala kejahatan di jalan raya. Sebagaimana yang diharapkan Mustandi kala mengikuti aksi solidaritas kematian anaknya. “Andri sudah pergi. Sekarang marilah bersama-sama mengusut tuntas kasus kematiannya, agar tak terjadi lagi hal seperti ini”.

Segenap keluarga besar UKSK UPI mengucapkan turut berdukacita atas wafatnya Andri Wardiansyah.

0 Comments