Dilema Keberadaan Bimbel

 Oleh M. Aldi Febrian*


Harapan  dan kecemasan tampaknya tengah menghantui siswa-siswa yang akan mengikuti Ujian Nasional (UN). Berbagai cara terus ditempuh oleh siswa untuk memantapkan kemampuan dalam menjawab butiran soal yang akan dihadapinya. Cara yang paling trend  hari ini adalah dengan mengikuti bimbingan belajar (bimbel) di luar sekolah. Apakah itu sebuah penanda bahwa pendidikan formal belum maksimal dalam memantapkan peserta didiknya untuk menghadapi UN? Kiranya ini bisa menjadi analisis kritis bagi kita semua.

Ketidakpercayaan
Fenomena yang biasa terjadi tiap tahunnya, siswa-siswa yang akan menghadapi UN, berbondong-bondong untuk memasuki lembaga bimbel. Frame masyarakat kekinian memandang, mengikuti bimbel di luar sekolah merupakan solusi yang tepat untuk memantapkan kognitif siswa saat menghadapi UN. Hal demikian, akan berdampak negatif terhadap tingkat kepercayaan siswa pada kualitas guru di sekolahnya.

Menjamurnya lembaga bimbel akan memicu siswa untuk mencari ilmu tambahan di luar sekolah. Apalagi fasilitas dan kualitas yang diberikan oleh lembaga bimbel lebih unggul dari apa yang diberikan siswa di sekolahnya. Berdasarkan data Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan, pada 2012 tercatat sebanyak 13.446 lembaga kursus di Indonesia, 11.207 lembaga yang telah memilki izin operasi (83,35%). Jumlah peserta kursus mencapai 1.348.565. Peserta kursus tersebut terdiri atas siswa SD sampai jenjang pendidikan tinggi. Siswa pada jenjang SMA menempati urutan pertama yaitu sebesar 45,51%, kemudian diikuti tingkat pendidikan SMP sebesar 22,97%, SD 17,84%, S2/S3 sebanyak 10,11%.

Peran Sekolah seharusnya lebih dominan dalam mempersiapkan peserta didiknya untuk menghadapi UN. Alangkah bijaknya jika sekolah menyelenggarakan kelas intensif untuk kebutuhan siswanya. Tujuan diadakannya kelas intensif tersebut adalah untuk mendampingi siswa secara akademis serta memberikan motivasi agar percaya diri saat mengahadapi UN.

Kualitas Pendidik
Mengapa para siswa lebih memilih belajar lanjutan di lembaga bimbel daripada di sekolahnya? apakah dalam segi kualitas pendidiknya lebih baik? Ada dua jenis pendidikan di Indonesia, yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Dapat diartikan lembaga bimbel merupakan jenis pendidikan non formal yang berfungsi sebagai penambah atau pelengkap pendidikan formal.

Namun dari data Direktorat Pembinaan kursus dan Pelatihan di atas, presentase peserta dalam lembaga bimbingan kursus cukup fantastis, artinya ada indikasi bahwa para siswa belum merasa puas dengan kualitas yang diberikan oleh pendidikan formal, khusunya pendidik yang ada di sekolahnya atau waktu yang terbatas di sekolahnya. Maka karena itu siswa lebih tertarik untuk belajar tambahan di luar sekolah.

Hal seperti ini baiknya segera dibenahi. Para guru di sekolah harus memiliki rasa tanggung jawab besar demi nasib siswanya. Bagaimana pun salah satu tugas guru adalah terus membimbing  peserta didik secara intensif untuk mencapai  tujuan dalam pembelajaran, khususnya dalam mempersiapkan siswanya yang akan menghadapi UN, karena tiap sekolah pasti memiliki target kelulusan seratus persen untuk siswanya.

Langkah taktis yang bisa dilakukan dengan cara melakukan controling terhadap seluruh siswa yang akan menghadapi UN. Controling bisa dilakukan dengan membuka kelas intensif sebagai tindak lanjut untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan para siswa.

Walaupun kegiatan ini tidak terdapat dalam kurikulum, namun sebaiknya dapat dilakukan.  Di dalam kelas intensif, guru bisa menanyakan materi apa saja yang belum dikuasai oleh siswa dan melakukan latihan untuk mengukur kemampuan siswa. Berikan perhatian lebih kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahi materi. Lalu pastikan agar siswa percaya dengan guru setiap mata pelajaran.

Meskipun tidak ada biaya operasional tambahan untuk guru, sebaiknya hal seperti itu bisa dilakukan demi kualitas kemampuan siswa mengghadapi UN. Terkadang selain berprofesi sebagai pengajar di sekolah, seorang guru tidak menutup kemungkinan bekerja di lembaga bimbel. Sehingga posisi demikian, akan menempatkan seorang pendidik berada dalam kondisi dilematik.

Siswa juga akan mengalami dilema serupa, apakah ia harus mempercayai bimbel atau sekolahnya? Tapi, semoga seorang pendidik memiliki visi yang sama yaitu mengabdi untuk meningkatkan kualitas dan mencerdaskan siswanya. Dan ini dapat menumbuhkan siswa untuk semangat menghadapi Ujian Nasional.

*M.Aldi Febrian, Kepala Departemen Advokasi dan Pengabdian pada Masyarakat UKSK UPI.

0 Comments