Krisis Komunikasi Empatik di Ruang Media

Oleh M. Vichi Fadhli R*

Manusia kontemporer mempunyai perilaku berbicara terlalu banyak tapi sebenarnya tanpa menyampaikan makna. Kemampuan manusia dalam berkomunikasi secara empatik akhir-akhir ini tampaknya mulai sirna. Salah satu problematiknya terdapat di ruang media.

Masyarakat kontemporer telah terbujuk arus keduniawian yang kokoh menjebak individu-individu untuk menghibur diri. Tak pelak kita mendapatkan suatu panggung hiburan di ruang media yang kini telah menjadi makanan sehari-hari bangsa ini. Banyak kata-kata terlontar dan menjadi andalan seorang public figure untuk merangkai guyonan yang justru miskin moralitas.

Seperti kita ambil contoh perkataan seorang pelawak, “lo kaya tukang becak aja!”  katanya kepada teman mainnya. Dari petikan kata-kata tersebut jelas maksud untuk membuat orang tertawa atau melucu di hadapan publik sebenarnya menjadi perkataan yang sama sekali tidak lucu. Secara tidak langsung perkataan tersebut telah menghilangkan sikap empati kita terhadap profesi seseorang dari apa yang dikatakan pelawak tersebut.

Tampaknya tukang becak, kuli, buruh, dan orang-orang kecil memang sering menjadi bahan olok-olok dalam industri hiburan kita. Mereka hanya menjadi aksesoris tontonan di ruang publik. Pernyataan-pernyataan tidak dilandasi kepedulian terhadap perasaan orang kecil, bahkan tak jarang juga secara kasar dipertontonkan adalah contoh perilaku komunikasi yang sangat miskin sikap empati.

Selain itu media telah memberikan ajaran-ajaran untuk hidup di atas kemewahan dan kegiatan yang berhamba kepada pasar. Dari sini pula kita mendapatkan media sebagai alat ideologi. Tidak sedikit stasiun-stasiun televisi (TV) sebagai pemegang hak siarnya yang menjadi corong utama dalam berpropaganda agar mempengaruhi penonton masuk dalam ideologi yang mereka rancang secara halus.

Budaya Konsumtif
Sangat jarang acara televisi saat ini yang memiliki pencerahan batin untuk menguak rasa kritis kita terhadap kehidupan. Baik yang bersifat moral maupun bersifat hiburan mendidik. Dari televisi pula dapat merubah jiwa masyarakat menjadi hedonis. Selain berjiwa hedonis, TV pun  membawa sikap komersialisme yang dapat mengubah jiwa individualis sehingga menuju sikap anti sosial.

Kenyataan tersebut merupakan salah satu dampak dari iklan dan acara sinetron di TV. Para perancang iklan rupanya sangat pintar dalam membangun konsep yang menonjolkan agar para konsumen membeli barang baru dan membuang barang lama. Sehingga budaya untuk membeli barang baru dan mengagungkan kemewahan telah melekat pada setiap penonton. Industri yang menciptakan istilah “ketinggalan jaman” akan memaksa orang untuk membeli barang-barang baru. Di sinilah dapat terjawab pertanyaan mengapa masyarakat kita adalah salah satu masyarakat yang paling konsumtif.

Bagaimanakah dengan sinetron? Dari sinetron pula isi ceritanya tak jauh menceritakan orang kecil yang ditindas oleh kaum mapan, orang  kecil hanya bias sabar dan ikhlas menjalani hidupnya. Sehingga dari kisah penindasan itupun kita kehilangan naluri perlawanan kita melawan ketidakadilan.

Televisi adalah hasil produk teknologi yang kini membalik logika. Kalau dulu “Manusia yang menonton TV”, tapi kini “TV-lah yang menonton manusia”.Untuk tingkat tertentu, TV bahkan telah “menertawakan” atau “melecehkan” Anda. Anda akan ditertawakan, misalnya, kalau Anda masih menggunakan merk HP, yang “kata TV” sudah ketinggalan jaman. Karena Anda merasa terus “ditonton TV”, Anda harus tetap menjaga penampilan. Apalagi bila anda tidak mau lagi ditertawakan bintang iklan di TV. Kalau besok Anda menyalakan TV dan disana muncul kembali iklan yang mengingatkan agar Anda mengganti perabot Anda dengan keluaran terbaru, sementara Anda belum menggantinya, bagaimanakah perasaan Anda?

Hanya dengan komunikasi empatik kita dapat membangun suatu alur komunikasi yang baik. Sejatinya, penulis mengharapkan ruang media dapat mengindahkan suatu komunikasi empatik dan penuh makna sehingga moralitas bangsa ini dapat kita bangun bersama.


*Mochamad Vichi Fadhli Rachman, Mahasiswa Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UPI. Kepala Departemen Jaringan Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) UPI.

0 Comments