UKSK turut serta Aksi Penolakan RUU PT

Aksi penolakan RUU PT yang dilakukan oleh sejumlah massa dari berbagai ormawa

Pada Selasa (10/4), Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) bersama sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Republik Mahasiswa UPI, mengadakan aksi menolak Rancangan Undang-undang Pendidikan Tinggi (RUU PT). Aksi yang diikuti oleh puluhan massa ini, diawali dengan kampanye di sekitar kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). 

Kampus yang saat itu belum ramai betul, tidak menyurutkan semangat massa yang turut mengikuti aksi. Aspirasi penolakan silih berganti mewarnai aksi tersebut. "Hentikan liberalisasi pendidikan!" begitu kelakar Aldi Febrian, Kepala Departemen Advokasi UKSK. Di bawah terpaan terik, Aldi dan sejumlah perwakilan massa aksi UKSK UPI bahu membahu untuk berorasi. 

Mulanya aksi dilakukan di depan gedung ex-pentagon, namun seiring berjalan waktu, aksi kemudian beralih ke depan gedung isola UPI. Di depan gedung bercat putih ini, massa aksi membacakan pernyataan sikap yang berisi tentang penolakan RUU PT dan segala bentuk liberalisasi pendidikan. 

Belum sampai di situ, massa aksi lantas melanjutkan "gelombang penolakannya" menuju gedung sate. Rupanya di sana sudah ada sejumlah massa yang berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IT Telkom, STT Telkom, dan ITB. Tanpa berpikir panjang, berbagai organisasi mahasiswa tersebut lalu bergabung dan menyuarakan penolakan RUU PT secara bersama.

Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi menolak RUU PT dan liberalisasi PT

Dalam aksi tersebut, perwakilan massa aksi diberikan kesempatan untuk melakukan audiensi dengan Komisi E DPRD Jawa Barat. Restu Nur Wahyudin, Ketua UKSK UPI, berkesempatan ikut audiensi bersama pimpinan ormawa lainnya. Perwakilan massa aksi, hanya disambut oleh seorang anggota Komisi E DPRD Jawa Barat Fraksi PAN, Sukmana.

Sukmara sendiri menuturkan, bila secara pribadi ia menolak adanya komersialisasi Perguruan Tinggi (PT). "Pada dasarnya, saya menolak adanya komersialisasi PT" ujarnya, "dan itu akan membuat rakyat miskin sulit kuliah". Meskipun begitu, ia tidak memberikan kepastian apakah seluruh anggota komisi E menolak RUU PT. "Intinya kami mengikuti rakyat, bila menolak, maka kami pun demikian", begitu katanya. 

Akan tetapi, apa yang diutarakan oleh Sukmara, tidak lantas diamini langsung oleh mahasiswa. Aldi Febrian menuturkan, bagaimanapun hal yang terpenting adalah komitmen penolakan dari berbagai elemen masyarakat, bukan dari seorang anggota dewan semata. "Itu kan hanya pendapatnya secara pribadi, tidak mewakili seluruh anggota Komisi" katanya. Selepas audiensi, massa aksi lantas menyanyikan lagu "darah juang" secara bersama. Pembakaran spanduk bertuliskan RUU PT pun menjadi simbol penutup aksi tersebut.

0 Comments