Tentang Pengangguran Terdidik

Oleh Manarul Ikhsan*


Tak ada bosan-bosannya kita berbicara mengenai kualitas pendidikan yang ada di negeri ini. Mulai dari sarana prasarana pendidikan, sistem pendidikan hingga kualitas tenaga pengajar.Pengangguran terdidik adalah seseorang yang telah lulus dari perguruan tinggi negeri atau swasta dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Para penganggur terdidik biasanya dari kelompok masyarakat menengah ke atas, yang memungkinkan adanya jaminan kelangsungan hidup meski menganggur. Pengangguran terdidik sangat berkaitan dengan Masalah kependidikan di negara berkembang pada umumnya, antara lain berkisar pada masalah mutu pendidikan, kesiapan tenaga pendidik, fasilitas, dan Kurangnya lapangan pekerjaan yang akan berimbas pada kemapanan sosial dan eksistensi pendidikan dalam pandangan masyarakat.

Pada masyarakat yang tengah berkembang, pendidikan diposisikan sebagai sarana untuk peningkatan kesejahteraan melalui pemanfaatan kesempatan kerja yang ada. Dalam arti lain, tujuan akhir program pendidikan bagi masyarakat pengguna jasa pendidikan, adalah teralihnya lapangan kerja yang diharapkan. Atau setidak-tidaknya, setelah lulus dapat bekerja di sektor formal yang memiliki nilai "gengsi" yang lebih tinggi di banding sektor informal. Dengan meningkatnya pengangguran terdidik menjadi sinyal yang cukup mengganggu bagi perencana pendidikan di negara-negara berkembang pada umumnya, khususnya di Indonesia. Sebenarnya gelar sarjana tak otomatis memuluskan jalan meraih pekerjaan.   

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Indonesia memiliki daya saing yang rendah dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia  adalah masalah efektivitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun  permasalahan khusus yang dihadapi dalam dunia pendidikan seperti rendahnya sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan dan lebih parahnya semakin mahalnya biaya pendidikan.                       

Berdasarkan laporan penelitian awal tahun 2012 oleh Kementerian PPN/Bappenas, tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan dari 7,14 % menjadi  6,56 %. Hal yang menarik, tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan SLTA ke atas mengalami penurunan yang cukup nyata. Penurunan nyata terlihat pada lulusan diploma, yakni turun dari 12,78 % menjadi  7,16 % dan sarjana dari 11,92 % menjadi  8,02 %. Namun jumlah ini masih cukup memprihatinkan. Pasalnya, jumlah pengangguran terdidik masih di atas lima persen. Pengangguran dapat dikatakan kecil jika jumlahnya berada di bawah lima persen, dan ini masih menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Hal ini menunjukkan ada yang salah dengan pengelolaan perekonomian dan pendidikan di Indonesia saat ini.   

Dengan adanya pengangguran terdidik, secara potensial dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, di antaranya timbulnya masalah-masalah sosial akibat pengangguran, pemborosan sumber daya pendidikan, dan menurunnya penghargaan serta kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan di negeri ini.

Tingkat pengangguran yang tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan, sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Dan  Akibat jangka panjangnya adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.

Mahalnya biaya pendidikan

Pada saat ini pendidikan bukanlah hal yang mudah untuk dirasakan oleh sebagian masyarakat menengah maupun kebawah . karena memang semua perguruan tinggi pada saat ini berlomba-lomba dalam menaikkan biaya masuk kuliahnya. bayangkan bila pendidikan dienyam oleh masyarakat menengah ke atas atau yang mampu saja, akan jauh sekali negara kita tertinggal dengan negara-negara lainnya.

Lebih parahnya lagi masyarakat sekarang sudah berparadigma bahwa pendidikan yang bagus adalah pendidikan yang biayanya tinggi. Paradigma seperti yang menghambat kemajuan pendidikan di negara kita Padahal bila kita lihat ke negara-negara luar seperti malaysia, jerman dan kuba bisa membuat pendidikannya sangat murah dan dapat diakses oleh sebagian besar lapisan masyarakatnya.

Bangsa kita seakan-akan dibodoh-bodohi dengan adanya keuntungan yang banyak dari sektor pendidikan terutama dalam hal ekonomi. Pendidikan seakan menjadi barang dagangan bagi yang ingin mengenyamnya. Jelas ini sangat keliru, seharusnya pemerintah lebih bisa mengerti kondisi rakyat bukan malah memperparah keadaan. Jikalau negara ini ingin maju maka pendidikanlah yang di utamakan bukan aspek lain. Selamat hari pendidikan Nasional. Semoga masalah pendidikan di negara kita dapat teratasi.

*Staf Departemen Pendidikan Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) UPI. Sekarang berdomisili dan mengajar di Bekasi.

0 Comments