Reading Book dan Budaya Membaca UKSK

Panggih Cahyo S. memandu jalannya reading grup "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire

Malam itu (16/7), seusai salat tarawih, sekelompok mahasiswa bergegas menuju sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) di kampus UPI, Jalan Setiabudhi nomor 229 Bandung. Mahasiswa yang jumlahnya sekitar 20 orang tersebut lantas duduk bersila membentuk lingkaran. Pandangan mereka tampak fokus pada sebuah buku yang mereka pegang, judulnya “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paulo Freire.

Terdengar seorang dari mereka tengah membaca salah satu halaman buku secara nyaring perlahan. Sementara, mahasiswa lainnya menyimak sekaligus memerhatikan kalimat demi kalimat dalam buku. Usai membacakan selama satu halaman, orang di sebelah kanan si pembaca tadi, kemudian melanjutkan pembacaan buku tersebut. Alurnya melingkar, satu per satu orang mendapat jatah membacakan.

Reading Group nama kegiatan tersebut. Konsepnya semacam tadarus. Ini sudah pertemuan keempat. Tercatat malam itu sudah beranjak pada bab ke III buku tokoh pendidikan asal Brazil, Paulo Freire. Kira-kira sekitar 50 halaman buku mereka ‘lahap’ secara bersama saat itu. Setelah bab III dibacakan, sekelompok mahasiswa tersebut lalu mendiskusikannya. Mimik setiap mahasiswa tampak seakan ingin mengutarakan pendapat. Terdapat seorang mahasiswa yang memoderatori diskusi.

Cintiana Ermalia, menjadi peserta pertama yang berkomentar. Menurutnya, konsep pemikiran Freire yang menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan kaum tertindas harus diterapkan. “Orang miskin harus berubah menjadi sejahtera, jalannya lewat pendidikan, sebagaimana Freire menuliskannya,” ujarnya.

Peserta lainnya, Nurfahmi Hasbullah, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI mengutarakan bahwa mahasiswa harus menjadi sosok yang membebaskan masyarakat marjinal melalui pendidikan. “Freire mengingatkan kepada kita untuk membentuk ruang-ruang dialogis dan bergerak mencerdaskan masyarakat marjinal,” paparnya.

Diskusi pun terus berlanjut, sebab setiap peserta harus berkomentar. Ada yang menyoroti sejarah buku tersebut, perkembangan pendidikan Indonesia, hingga efektivitas kebijakan pendidikan yang dilahirkan pemerintah bila dikomparasikan dengan paradigma Freire.

Membudayakan Membaca
Kegiatan Reading Group malam itu merupakan pertemuan yang keempat sejak digagas pertama kali (14/6) oleh UKSK UPI. Hal tersebut dibenarkan oleh Kelvin Prabowo ketua UKSK UPI. “Ini sudah pertemuan keempat, buku pertama karya Tan Malaka, S.I School and Onderwijs, kita tamatkan satu pertemuan,” ujar Kelvin, “Kalau sekarang sudah ganti ke buku Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas,” tambahnya.

Menurut Kelvin, alasan memilih buku pendidikan sebagai fokus pembacaan adalah karena kampus UPI termasuk dalam Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). “UPI kan termasuk LPTK, mayoritas lulusannya menjadi pendidik, maka mahasiswanya tentu harus paham pengetahuan sebanyak-banyaknya seputar pendidikan,” ujarnya.

Kelvin pun menambahkan bila buku pendidikan yang dimaksud diarahkan agar peduli pada masyarakat tak mampu. “Buku yang kami bacakan diupayakan harus menumbuhkan karakter pengabdian dan kepedulian mahasiswa kepada pendidikan masyarakat terutama yang tak mampu,” paparnya.

Sementara itu, konsep kegiatan Reading Group dipilih agar dapat melecut budaya membaca buku mahasiswa sekaligus mendiskusikannya. Hal tersebut diutarakan oleh Panggih Cahyo Setiaji Kepala Departemen Pendidikan UKSK. “Terkadang mahasiswa itu malas kalau baca buku sendiri, maka dengan membaca bersama-sama itu akan menjadi pelecut semangat,” katanya, “Kita pun jadi semakin paham bila mendiskusikan isi buku tersebut,” tambah Panggih.

Salah satu peserta, Annisa Nurul Utami mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia sangat mengapresiasi kegiatan Reading Group UKSK. Menurutnya kegiatan tersebut sangat membentuk budaya membaca pendidikan. “Kalau di perkuliahan kita terbatas oleh waktu, terkadang saya malas, namun lewat kegiatan ini semakin memompa saya untuk membaca buku,” papar Nurhidayat.

Lain hal dengan peserta Reading Group lainnya, Sany Rohendi Apriad yang juga menjadi pengajar di salah satu Sekolah Dasar di Bandung. Menurut Sany, kegiatan Reading Group sangat kaya akan amanah dan ilmu yang berguna untuk diterapkan ketika nanti mengajar. “Saya semakin paham menganai berbagai konsep pendidikan,” ujarnya, “Melalui bahan bacaan, sikap kepedulian terhadap pendidikan bagi masyarakat yang tak mampu pun menjadi inspirasi untuk saya mengajar,” pungkasnya.

0 Comments