60 Tahun Konferensi Asia Afrika: Forum Jual Beli Aset Indonesia

Oleh Nur Hidayat Santoso*


“Silakan datang berinvestasi di Indonesia, jika ada masalah, telepon saya”, itulah perkataan Presiden Joko Widodo saat memberikan sambutan pada World Economic Forum East Asia (WEF-EA) ke-24 yang dilaksanakan di Hotel Shangri-La, Jakarta (20/4). Perkataan tersebut disampaikan di depan 700 pengusaha dari 41 negara di kawasan Asia bagian timur untuk berinvestasi di Indonesia.

Awal mula munculnya Konferensi Asia Afrika tahun 1955 menjadi momentum negara-negara Asia Afrika yang garis besarnya menyuarakan anti kolonialisme, imperialisme, dan menghormati kedaulatan masing-masing negara. Dasa Sila Bandung menjadi bukti konkret sikap dan semangat awal Konferensi Asia Afrika.

Pertanyaannya apakah semangat 60 tahun Konferensi Asia Afrika masih sejalan dengan semangat tahun 1955 lalu? Apakah sikap anti kolonialisme dan imperialisme yang dahulu dideklarasikan sudah benar-benar diaplikasikan di negara-negara Asia Afrika. Kenyataannya sekarang Konferensi Asia Afrika hanya menjadi forum negara-negara imperialis untuk lebih mendominasi negara-negara Asia Afrika lewat skema penindasannya. Iming-iming tumbuhnya taraf perekonomian rakyat menjadi modus yang sangat cocok dalam melancarkan penjajahan gaya baru ala negara-negara imperialis.

Pada forum ini Presiden Joko Widodo dapat dikatakan “menjual” negara Indonesia secara tidak langsung. Pasalnya dalam Konferensi Asia Afrika ini yang di dalamnya terlibat 109 Kepala Negara, 25 Organisasi Internasional, dan 700 pengusaha TNC/MNC (Trans National Coorpiration/Multi National Coorporation) siap menanamkan modalnya di Indonesia.

Pengusaha-pengusaha dari negara Imperalis tersebutlah yang nyata-nyatanya meghisap sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang ada di Indonesia. Dapat diambil contoh adalah beberapa perusahaan yang menghisap di Indonesia adalah PT Freeport, PT Chevron, PT Danone. Sudah lama perusahaan-perusahaan tersebut berdiri di negara Indonesia, tetapi apa yang didapatkan oleh masyarakat sekitar perusahaan itu berdiri? Hanya dampak pencemaran lingkungan, kemiskinan, dan masih banyak lagi dampak yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan tersebut untuk Indonesia.

Sebagai contoh PT Freeport Indonesia yang terus mengekspolitasi sumber daya alam di Papua, setiap tahunnya menurut Masinton (Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perjuangan Demokrasi) PT Freeport Indonesia mampu meraup keuntungan hingga Rp. 70 triliun. Keuntungan yang sangat tinggi tersebut langsung mengalir ke kantong imperialis AS. Sedangkan berdasarkan data BPS hingga Maret 2014 jumlah penduduk miskin Papua Barat mencapai 229.430 jiwa atau sebanyak 27,13% dari jumlah penduduk Papua Barat. Dapat dibayangkan keuntungan PT Freeport Indonesia per tahun bisa jadi dapat mengentaskan kemiskinan di masyarakat Papua Barat.

Bisa dibayangkan berapa milyar dolar keuntungan pengusaha-pengusaha imperialis yang didapat dari penghisapan sumber daya alam dan sumber daya manusia di Indonesia. “Penjualan aset-aset negara” yang hanya menyengsarakan rakyat tetap dijalankan oleh kepemimpinan Joko Widodo bahkan makin dibuka lebar jalannya.

Pembahasan-pembahasan pada momentum 60 tahun Konferensi Asia Afrika yang dilaksanakan dari tanggal 19 s.d. 24 April seperti “Pesan Bandung 2015”, pembaharuan kerja sama antarnegara di Asia Afrika, dan kemerdekaan Palestina hanya akan menjadi kedok negara imperialisme untuk menutupi upaya dominasinya terhadap negara-negara Asia Afrika.


*Ketua Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) UPI.

0 Comments