Hardiknas dan Kamping UKSK

“UKSK bukan sebagai organisasi yang berlandaskan kepedulian, melainkan keberpihakan,” Ujar Aang Kusmawan dalam sesi refleksi di kegiatan Camp for Revolution UKSK.

Sabtu (2 Mei 2015), Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) UPI melaksanakan kegiatan Camp for Revolution, sebagai program refleksi dan pembacaan kondisi objektif organisasi. Kamping ini sendiri bertempat di gunung Jayagiri, Lembang. Sebelum melaksanakan kamping, UKSK menyempatkan untuk menggelar aksi bersama Aliansi Mahasiswa UPI sebagai respons dari perayaan Hardiknas dan pengesahan Museum Pendidikan UPI.

Spanduk Aksi Hari Pendidikan Nasional

Pengesahan Museum Pendidikan Nasional UPI yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional mengundang sejumlah pejabat publik seperti Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat) dan Popong Otje Djundjunan (Anggota Komisi X DPR RI). Pengesahan museum ini juga dinilai sebagai momentum kemajuan pembangunan khususnya dalam bidang pendidikan di Indonesia.

Namun, di balik euforia tersebut, Aliansi mahasiswa UPI melihat beberapa borok di tubuh UPI yang hingga sekarang belum kering betul. Antara lain adalah penetapan golongan UKT yang tidak jelas menyebabkan beberapa mahasiswa kesulitan membayar SPP, hal ini diperparah dengan kebijakan yang tertulis dalam surat edaran rektor nomor 7802/UN40.RI/KM/2014 tentang pembayaran biaya kuliah, di situ tertulis bahwa mahasiswa yang telat membayar biaya kuliah melebihi 60 hari setelah jatuh tempo maka dinyatakan mengundurkan diri. Selain itu tersendatnya pembangunan gedung FPEB hingga sekarang, pembangunan FPEB sendiri sudah dimulai sebelum pembangunan museum UPI namun terhenti karena masalah konstruksi yang harus memakan biaya lebih dari rencana awal.

(kanan) Anggota Menwa melakukan audiensi
dengan (kiri) massa aksi Aliansi Mahasiswa UPI
Sayangnya suara dari Aliansi Mahasiswa UPI tidak sampai pada semua telinga tamu undangan pengesahan Museum Pendidikan Nasional karena tertahan oleh personil keamanan dan Resimen Mahasiswa (Menwa) yang berjaga melingkari tempat hajatan tersebut. Aliansi Mahasiswa UPI sendiri hanya bisa menyuarakan aspirasinya jauh dari tempat pengesahan museum dan hanya bisa dilihat oleh beberapa warga UPI dan tamu undangan hajatan. Sedangkan pejabat publik melewati tempat lain -yang tidak melewati aksi- ketika hajatan itu selesai.

Camp for Revolution
Selepas menggelar aksi dengan Aliansi Mahasiswa UPI, beberapa anggota UKSK menyiapkan diri untuk kamping di gunung Jayagiri, Lembang, untuk refleksi dan analisis kondisi objektif organisasi. Perjalanan dari kampus hingga posisi kamping kurang lebih memakan waktu empat jam.

Hujan gerimis, udara dingin, dan kondisi anggota yang lelah tidak menghentikan semangat peserta kamping. Setelah mempersiapkan kamp dan menyantap pembekalan, sesi refleksi pun dimulai. Semua anggota UKSK yang hadir menyumbangkan suaranya dalam pendiskusian baik tentang kondisi UKSK saat ini maupun masalah pribadinya terhadap UKSK.

Dari peserta kamping, terdapat senior UKSK yang turut menyumbangkan nasihat untuk pengurus UKSK yang sedang menjabat, antara lain adalah Ubaidillah Muchtar yang hadir bersama istrisnya Linda Nurlinda dan Aang Kusmawan.

Aang Kusmawan menyampaikan bahwa organisasi UKSK hadir berdasarkan keberpihakan bukan kepedulian. Kepedulian di sini berada dalam konteks UKSK sebagai pihak yang berkecukupan dan mampu memberikan sesuatu kepada pihak lain, sedangkan UKSK yang berlandaskan keberpihakan berarti UKSK sendiri berada dalam satu pihak yang memperjuangkan hak-haknya. Aang menambahkan, “Kepedulian itu selesai ketika kita telah memberikan sesuatu sedangkan keberpihakan sifatnya terus ada dalam diri kita,”.

Keberpihakan ini terlihat dari aksi yang dilakukan UKSK bersama dengan rekan Aliansi Mahasiswa UPI, anggota UKSK yang masih aktif berkuliah pada akhirnya menjadi pihak yang terancam oleh beberapa kebijakan kampus, maka UKSK harus memperjuangkan hak mahasiswa yang seharusnya didapat. Keberpihakan bukan berarti UKSK tidak memihak atau menganggap bahwa pejabat UPI, pesonil keamanan UPI, atau mahasiswa yang tergabung dalam Menwa sebagai musuh, namun UKSK memperjuangkan hak dari mahasiswa yang berkuliah di UPI termasuk anak atau kerabat dari pejabat UPI dan mahasiswa yang tergabung dalam Menwa.

Ubaidilah Muchtar menjelaskan bahwa terdapat dua jenis organisasi, yaitu organisasi masa dan organisasi kader. Organisasi masa berorientasi pada hasil, hal ini mengutamakan kuantitas dari anggota yang nantinya berdampak pada setiap kegiatan, sedangkan organisasi kader berorientasi pada proses atau kualitas yang dimiliki oleh anggota. Ubaidilah membebaskan UKSK periode sekarang untuk memilih jalannya sendiri.

Hingga saat ini orientasi yang dibangun UKSK berbasis organisasi kader, hal ini terlihat dari masa yang sedikit ketika aksi Hardiknas siang harinya. Di tengah mahasiswa yang semakin praktis dan hedonis (termasuk pengurus UKSK sendiri), UKSK harus bisa beradaptasi jika ingin mempertahankan dirinya.

Esok harinya dengan dipimpin oleh ketua UKSK periode 2015-2016 peserta kamping bersepakat bahwa tujuan utama UKSK hari ini bukan sebagai penghancur kebijakan yang tidak sesuai namun pencerdas mahasiswa. “Mencerdaskan mahasiswa untuk menghancurkan kebijakan yang tidak sesuai!”  ujar salah satu peserta Camp for Revolution. Hari minggu (3 Mei 2015) sekira jam 14.30 peserta kamping menuruni gunung Jayagiri untuk pulang dan kembali berjuang. [MAP]
Selamat Hardiknas, Selamat berpihak!














0 Comments