Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional: Momentum Perjuangan Rakyat

Oleh Nur Hidayat Santoso*


Tanggal 1 Mei dan 2 Mei merupakan hari bersejarah di dunia dan di Indonesia, Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional menjadi sebuah momentum yang sangat tepat bagi perjuangan rakyat khususnya buruh dan pemuda mahasiswa. Pasalnya kedua hari ini muncul karena ada perjuangan rakyat sebelumnya. Perjuangan buruh menuntut upah yang layak, asuransi kerja, hingga penolakan sistem kerja outsourcing menjadi bukti masih adanya penindasan di negeri ini. Sama halnya di sektor pendidikan, Hardiknas menjadi momentum pemuda mahasiswa menuntut pendidikan yang benar-benar bervisi kerakyatan, bukan pendidikan yang dikomersialisasikan.

Memahami May Day dan Hardiknas
Munculnya Hari Buruh Internasional yang terkenal dengan May Day merupakan hasil dari perjuangan kaum buruh meraih kendali ekonomi politik dari sektor industri. May Day memiliki semangat perjuangan yang diawali penolakan dari kaum buruh atas jam bekerjanya. Tepatnya pada tahun 1806 para buruh perusahaan sepatu Cordwainers di Amerika Serikat melakukan aksi demonstrasi yang menuntut pengurangan jam kerja yang dahulunya 20 jam per hari menjadi 8 jam perhari.

Berawal dari aksi demonstrasi buruh perusahaan sepatu di Amerika Serikat memunculkan gerakan di berbagai negara. Gerakan-gerakan yang muncul bukan tanpa hambatan, peristiwa Haymarket menjadi peristiwa represifnya AS dengan menggunakan polisi untuk melawan dan menembaki para demonstran. Hingga kini perjuangan kaum buruh masih dilakukan untuk memenuhi hak-haknya. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Berbeda halnya dengan Hardiknas, penentuan tanggalnya mengacu pada tanggal lahir Ki Hajar Dewantara. Beliau dianggap adalah orang yang paling berjasa memajukan pendidikan umum di Indonesia. Dalam upayanya membangun pendidikan di Indonesia, filosofi "Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri hadayani" yang artinya "Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan" menjadi slogan pendidikan yang digunakan hingga saat ini. Atas jasanya tersebut Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959.

Secara garis besar hal-hal yang diperjuangan pada momentum May Day dan Hardiknas sama yaitu kesejahteraan bagi rakyat, khususnya di sektor buruh dan pendidikan. Kaitannya kedua momentum besar ini adalah tercapainya suatu perubahan yang lebih baik lagi.

Kita mengetahui bahwa suatu perubahan adalah karya berjuta-juta massa, jadi sangat sulit misalnya hanya kaum buruh saja yang berjuang untuk perubahan, ataupun pemuda mahasiswanya saja. Keterkaitan antara buruh dan pemuda mahasiswa sangatlah erat sebagai elemen perubahan sosial.

Realitas Perjuangan Buruh dan Pemuda Mahasiswa
Perjuangan buruh dan pemuda mahasiswa tetap berlangsung hingga kini, pasalnya masih banyak sekali permasalahan yang menyangkut buruh dan pemuda mahasiswa. Contoh permasalahan buruh yang hingga kini salah satunya adalah upah, Berdasarkan hasil analisis The Economist Intelligence Unit (EIU), meskipun tahun ini upah buruh di Indonesia diperkirakan naik 48 persen, mereka hanya menerima 74 sen per jam. Sedangkan buruh di Cina menerima US$ 4,79 per jam, Filipina US 3,15 per jam, dan Vietnam US$ 3,16. Sangat jelas bahwa upah buruh di Indonesia masih jauh dari upah buruh negara-negara Asia lainnya.

Buruh Indonesia menjadi sasaran yang tepat bagi pemodal asing, selain sumber daya alam yang melimpah di negara Indonesia dan mudah untuk diekspolitasi, upah buruh Indonesia juga masih relatif sangat rendah. Perusahaan sepatu Nike mungkin menjadi merek dagang yang sangat populer di dunia, tetapi puluhan ribu buruh perusahaan sepatu Nike di Indonesia hanya mendapat 2,46 dollar AS per hari (sebelum krisis moneter) dari sekitar 90-100 dollar harga sepasang sepatu Nike. Padahal dalam sehari, mereka bisa menghasilkan sekitar 100 sepatu. Sementara itu, Michael Jordan meraup 20 juta dollar AS per tahun dari iklan Nike. Sementara bos Nike, Philip H. Knight, memperoleh gaji 864.583 dollar dan bonus 787.500 dollar. Tetapi, di belakang mereka ratusan ribu buruh Nike di seluruh dunia tetap kelaparan. (reporter TEMPO Interaktif, Prabandari, dari Oregon, Amerika Serikat).

Hal yang paling mencengang adalah menurut Portland Jobs with Justice (organisasi buruh di AS), lebih dari sepertiga produk Nike dihasilkan di Indonesia. Buruh hanya mendapat 2,25 dollar AS dan naik menjadi 2,46 dollar pada April 1997 per hari untuk membuat sekitar 100 sepatu. Dengan upah tersebut, buruh tidak mampu membeli makanan dan mencari tempat berlindung yang cukup. Jadi dapat kita bayangkan seberapa besarnya penghisapan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing di Indonesia dengan memanfaatkan banyaknya SDM dan SDA di Indonesia.

Kaitan buruh dengan pendidikan sudah sangatlah jelas. Pendidikan kini sudah mulai diarahkan menjadi pekerja murah, baik itu lulusan sekolah menengah ataupun perguruan tinggi. Jumlah lulusan yang sangat besar di Indonesia dimanfaatkan oleh perusahaan asing sebagai pekerjanya. Lewat skema-skema yang dilakukan, jumlah lulusan (pengangguran) dijaga agar tetap banyak agar menguntungkan pemodal asing.

Pendidikan yang seharusnya diorientasikan menjadi alat untuk memecahkan permasalahan di rakyat, kini mulai beralih ke arah pemenuh pekerja bagi perusahaan-perusahaan asing. Permasalah pendidikan Indonesia cukup beragam, dari mulai kualitas pendidik, fasilitas, hingga rumitnya sistem pendidikan nasional. Berdasarkan data Kemendikbud 2010, di Indonesia terdapat lebih dari 1,8 juta anak setiap tahun tidak dapat melanjutkan pendidikan,  Hal ini disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor ekonomi; anak-anak terpaksa bekerja untuk mendukung ekonomi keluarga; dan pernikahan di usia dini. Sedangkan Sepanjang bulan Februari hingga Agustus 2014, jumlah pengangguran di Indonesia bertambah 0,09 juta orang dari 7,15 juta orang meningkat 7,24 juta orang.

Hal ini yang menjadi peluang bagi perusahaan asing dalam mengambil keuntungan di Indonesia. Dengan cara pemeliharaan angka pengangguran yang dibiarkan tetap banyak, lambat laun mengubah cara pandang masyarakat Indonesia menjadi pasrah mendapatkan upah kecil walaupun telah sekolah tinggi daripada tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali.

May Day dan Hardiknas sebagai Momentum Pencerdasan
Sejalan dengan semangat awal munculnya May Day dan Hardiknas, seharusnya kedua momentum ini digunakan oleh buruh, pemuda mahasiswa, umumnya rakyat Indonesia untuk memperjuangkan hak-haknya, bukan menjadi sekadar perayaan saja. Pemuda mahasiswa saat ini mungkin banyak yang mengetahui May Day dan Hardiknas, tetapi hanya merayakan saja lewat facebook, twitter, dan berbagai media sosial lainnya.

Upaya yang mungkin bisa dilakukan oleh pemuda mahasiswa adalah upaya-upaya mencerdaskan masyarakat tentang perjuangan kaum buruh dan umumnya rakyat Indonesia memperjuangkan hak-haknya.

Pendidikan adalah jalan yang dapat dijadikan pemuda mahasiswa dalam memperjuangkan hak rakyat, pasalnya pendidikan menjadikan generasi penerus bangsa bukan menjadi pekerja siap pakai, tetapi lulusan yang benar-benar memperjuangkan hak rakyat. Mahasiswa, buruh, petani, dan berbagai elemen masyarakat tentunya harus saling membantu. Materi pengantar diskusi Slasaan UKSK, 28 April 2015.


*Ketua Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan UPI

1 Comments

  1. aslamu alaikum wr wb..
    bismillahirrahamaninrahim,,senang sekali saya bisa menulis
    dan berbagi kepada teman2 melalui tempat ini,
    sebelumnya dulu saya adalah seorang pengusaha dibidang property rumah tangga
    dan mencapai kesuksesapossiblen yang luar biasa, mobil rumah dan fasilitas lain sudah saya miliki,
    namun namanya cobaan saya sangat percaya kepada semua orang,
    hingga suaatu saat saya ditipu dengan teman saya sendiri dan membawa semua yang saya punya,
    akhirnya saya menanggung hutang ke pelanggan-pelanggan saya totalnya 470 juta dan di bank totalnya 600 juta ,
    saya sudah stress dan hampir bunuh diri anak saya 3 orang masih sekolah di smp / sma dan juga anak sememtarah kuliah,tapi suami saya pergi entah kemana dan meninggalkan saya dan anaka-naknya ditengah tagihan hutang yang menumpuk,
    demi makan sehari hari saya terpaksa jual nasi bungkus keliling dan kue,
    ditengah himpitan ekonomi seperti ini saya bertemu dengan seorang teman
    dan bercerita kepadanya, alhamdulilah beliau memberikan saran kepada saya.
    dulu katanya dia juga seperti saya setelah bergabung dengan K.H. Tambring Abdullah hidupnya kembali sukses,
    awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama satu minggu saya berpikir
    dan melihat langsung hasilnya, `
    saya akhirnya bergabung dangan mengunjungi website di www.programdanainstan.blogspot.com semua petunjuk K.H. Tambring Abdullah saya ikuti dan hanya 1 hari astagfirullahallazim,
    alhamdulilah demi allah dan anak saya,
    akhirnya 5m yang saya minta benar benar ada di tangan saya,
    semua utang saya lunas dan sisanya buat modal usaha,
    kini saya kembali sukses terimaksih K.H. Tambring Abdullah saya tidak akan melupakan jasa aki.
    jika teman teman berminat, yakin dan percaya insya allah,
    saya sudah buktikan demi allah silakan kunjungi website di www.programdanainstan.blogspot.com atau KLIK DISINI

    ReplyDelete