Hari Tanpa Tembakau Sedunia: Rokok, Lifestyle, dan Kapitalisme


Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah salah satu dari banyak hari peringatan yang terkait dengan upaya peningkatan kesadaran masyarakat akan kesehatan, termasukdi antaranya Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Hari AIDS Sedunia, Hari Donor Darah Sedunia, dan lain-lain. Hari tanpa tembakau sedunia diperingati setiap tanggal 31 mei. Hari ini bertujuan untuk menarik perhatian dunia mengenai menyebarluasnya kebiasaan merokok dan dampak buruknya terhadap kesehatan. Diperkirakan kebiasaan merokok setiap tahunnya menyebabkan kematian sebanyak 5,4 juta jiwa.

Negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia atau yang akrab didengar WHO mencetuskan Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini pada tahun 1987. Dalam satu dasawarsa terakhir, gerakan ini menuai reaksi baik berupa dukungan dari pemerintah, aktivis kesehatan, dan organisasi kesehatan masyarakat, ataupun tentangan dari para perokok, petani tembakau, dan industri rokok.

Rokok merupakan produk tembakau yang sangat digemari oleh semua kalangan manusia terutama di Indonesia. Merokok merupakan sebuah aktivitas/kegiatan yang dilakukan seseorang dengan cara membakar dan menghisap gulungan daun tembakau atau rajangan daun tembakau yang dilinting oleh kertas. Konon, aktivitas menghisap asap tembakau ini bermula/dikenalkan oleh suku Indian dan dibawa ke Eropa pada masa penjelajahan. Namun, setiap daerah masing-masing di dunia mempunyai kisah tersendiri mengenai awal mula rokok dan merokok. 

Sumber: chirpstory.com

Tembakau hampir seluruhnya dijadikan rokok, dan pemanfaatan tembakau hampir seratus persen berupa rokok. Pada tahun 2000, merokok dilakukan oleh setidaknya 1.22 miliar orang dan sebagian besar merupakan laki-laki. Namun selisih antargender berkurang dengan meningkatnya usia. Orang miskin memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk merokok, demikian pula masyarakat di negara miskin dan berkembang jika dibandingkan dengan masyarakat di negara maju. Hingga tahun 2004, WHO melaporkan jumlah kematian sebesar 5.4 juta jiwa akibat rokok.

Di dunia modern, kini rokok telah menjadi lifestyle (gaya hidup). Bentuknya pun diulik sedemikian rupa menjadi bermacam-macam jenis. Ada kretek, filter, menthol, cerutu dan lain-lain. Para perusahaan rokok menyediakan berbagai macam pilihan tergantung selera masing-masing. Perokok pun kini tak lagi hanya dikuasai oleh lelaki, kaum hawa pun mulai merokok sebagai gaya hidup, terbukti dengan data sarah baber pada 2004 di Indonesia 4,5% dari 57 juta perokok adalah perempuan.

Walaupun hingga kini masyarakat Indonesia yang merupakan perokok terus meningkat namun pada hari tanpa tembakau tanggal 31 mei 2014 warga indonesia turut merayakannya lewat kicauan di media sosial Melalui pencarian dengan ragam kata kunci (keyword), seperti #HariTanpaTembakau, #haritanpatembakausedunia, #hariantitembakausedunia, #hariantitembakau, Awesometrics berhasil mendapatkan sejumlah data. Jumlah perbincangan per-tanggal 31 Mei 2014, perihal kata kunci tersebut di ranah sosial media (twitter & facebook) sebesar 691 mention banyaknya. Sementara itu sebaran jumlah perbincangan di berbagai daerah di Indonesia didominasi oleh beberapa kota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Malang, dan Yogyakarta.

Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa dukungan masyarakat begitu besar terkait peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Terutama mengenai bahaya kebiasaan merokok bagi kesehatan serta relevansi terhadap regulasi yang mengaturnya.

Kapitalisme?
Bila diamatai sejak mula diperkenalkannya, orang-orang yang mengenal rokok sulit lepas dari rokok. Menjadi seperti kecanduan. Hal ini diamati dengan jeli oleh kaum pebisnis. Di dalam maupun di luar negeri, perusahaan rokok tumbuh menjadi perusahaan besar. Bahkan beberapa orang terkaya di Republik ini adalah para pemilik perusahaan rokok besar tanah air. Perusahaan rokok gurem pun ikut menangguk untung walaupun dalam skala lokal. Penerimaan pajak dari bisnis asap ini kerap kali membuat pemerintah ragu untuk bertindak tegas dalam membuat undang-undang mengenai rokok dan tembakau. Dan bila dilihat dari besarnya keuntungan dan model perusahaan, usaha rokok telah menjadi salah satu lambing supremasi kapitalisme.

Produk kapitalisme adalah produksi secara besar-besaran ini didukung penuh dengan pajak yang realtif rendah membuat perusahaan rokok asing justru berkembang dan menjalar ke semua kalangan termasuk anak-anak. Harga yang relatif terjangkau membuat rokok mudah dikonsumsi dengan nikotin yang membuat candu.
Dampak Rokok

Tembakau yang diubah jadi rokok pasti mempunyai dampak negatif dan positif, walaupun pada akhirnya dampak negatif lebih banyak dibandingkan positif yang sulit dicari pada buku sumber. Dampak negatif dari rokok antara lain kanker paru-paru, kanker kandung kemih, kanker payudara, kanker serviks, kanker mulut, dll. sedangkan dampak positif rokok menjadi salah satu pendapatan negara, lahan kerja, bagi perokok adalah penghilang stress. 

Jadi dari dampak di atas dapat disimpulkan bahwa rokok memang sangat berbahaya bagi perokok karena perlahan akan membunuh lewat penyakit-penyakit yang dihadirkan.

Baca juga buku A Giant Pack of Lies Bongkah Raksasa Kebohongan karya Mardiyah Chamim, dkk.

*Kepala Departemen Jaringan, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, kelahiran Sukabumi, sedang giat mengkritisi kebijakan biaya kuliah di UPI yang sangat mahal.

0 Comments