Aktivis Mahasiswa UPI Lupa Siapa Kawan dan Siapa Lawan?

“Sejarah seluruh umat manusia adalah sejarah perjuangan kelas.” -Manifesto Komunis

Masih ingat film dengan The Hunger Games? Sebuah film hasil ekranisasi novel dengan judul yang sama karya penulis Amerika Serikat, Suzanne Collins. Film yang mengisahkan tentang kumpulan orang yang telah diundi untuk kemudian ditempatkan dalam satu tempat yang sama dan dikondisikan untuk saling membunuh satu sama lain. Membunuh untuk kemudian menjadi pemenang. Namun, Katniss Everdeen sang tokoh utama berpikir bahwa yang sebenarnya harus mereka lawan bukanlah sesama warga distrik, tetapi orang-orang yang mengendalikan sistem, dan membuat kondisi yang seolah-olah manusia ini seperti barang dagangan yang bisa dipermainkan.

Sungguh suatu kesadaran yang sangat bijak. Untuk mengubah kondisi seperti itu, Katniss melawan sistem yang ada, melawan simbol dari sistem tersebut yaitu Presiden Snow, bukan korban dari sistem tersebut yang Katniss salahkan. Kesadaran tentang siapa kawan dan siapa lawan yang dibangun Katniss menjadi hal penting yang bisa kita terapkan dalam dunia nyata, bukan hanya dunia layar kaca saja. Kesadaran yang dibutuhkan oleh semua orang yang menginginkan perubahan. Termasuk mahasiswa.

Mengapa mahasiswa butuh kesadaran seperti itu? Apa pentingnya kesadaran tersebut bagi mahasiswa? Mari kita uraikan.

Mahasiswa, katanya agen perubahan. Katanya lagi, mahasiswa jika turun ke jalan akan menghasilkan sebuah perubahan. Karena mahasiswa bukan hanya membawa kepentingan pribadi mahasiswa saja, tetapi kepentingan berbagai sektor. Bukti konkretnya adalah reformasi tahun 1998 lalu, bukan katanya karena itu memang fakta. Betapa menghegemoninya mahasiswa saat itu. 

Mengapa reformasi tahun 1998 itu dapat sukses menumbangkan rezim yang sudah berkuasa selama 32 tahun? Hal itu dapat terjadi ketika mahasiswa dan masyarakat saat itu mengetahui siapa kawan yang bisa diajak beriringan untuk melawan musuh, dan siapa lawan yang harus dijadikan musuh untuk mereka tumbangkan. Namun, mengapa saat ini mahasiswa tidak bisa mengubah kondisi yang semakin represif ini? Pertanyaan lain, ke mana hegemoni dan julukan yang sering dibanggakan oleh para penggerak organisasi mahasiswa saat mencari muka di depan mahasiswa baru? 

“Loyo”nya mahasiswa hari ini dalam melakukan perubahan dapat semakin menjadi ketika mereka tidak punya kesadaran seperti Katniss Everdeen. Tidak cermat dalam menentukan siapa kawan dan siapa lawan. Kok mahasiswa malah melawan mahasiswa? Kok antarmahasiswa satu universitas malah tawuran? Bagaimana kita bisa mencari kawan di luar jika kawan terdekat kita sesama mahasiswa malah tidak saling mendukung?

Sepertinya di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini pun ternyata kesadaran tentang siapa kawan dan siapa lawan mahasiswa pun belum cermat dipilahnya. Belum lepas ingatan kita tentang penyegelan sekretariat BEM REMA UPI oleh beberapa mahasiswa yang menyatakan diri sebagai warga UPI. Desember ini pun, ada sebuah diskusi dengan topik “Masih Pentingkah BEM REMA di UPI?”. Apakah benar jika sebuah organisasi mahasiswa yang harus kita lawan?

Mungkin, hal yang dilakukan tersebut merupakan suatu bentuk kekecewaan mahasiswa UPI terhadap kinerja pengurus BEM REMA UPI, bukan kecewa terhadap BEM REMA UPI sebagai organisasi. Karena, jika pertanyaan “Sepenting apakah BEM REMA di UPI?”, tentu jawabannya sangat penting. BEM sebagai pusat koordinasi ormawa di UPI. Analoginya, mahasiswa dan ormawa adalah suatu pohon. Pola pikir mahasiswa adalah akar pohon yang disalurkan ke batangnya, yakni BEM REMA sebagai ormawa tingkat Universitas. Sebagai batang, BEM REMA tentu mempunyai dahan yang berupa ormawa tingkat Fakultas. Lalu, sebagai dahan, ormawa fakultas mempunyai ranting yang berupa Himpunan tingkat Departemen. Semuanya saling terkait, mempunyai fungsinya masing-masing dan tentunya saling melengkapi.

Kondisi tersebut semakin diperparah oleh ‘surat kaleng’ yang tersebar di mahasiswa dengan nama “Catatan Yana”. Menohok sekali apa yang disampaikan dalam catatan tersebut. Apakah benar BEM REMA yang harus kita lawan? bukankah BEM REMA juga merupakan korban dari kondisi hari ini yang represif? Apakah konflik horizontal akan mampu menjawab kondisi yang represif ini?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa walaupun keberadaan organisasi mahasiswa ektrakampus di UPI tidak diperkenankan, tetapi perkembangan beberapa organisasi ekstrakampus tersebut berkembang sangat pesat saat ini. Apalagi dalam “surat kaleng Catatan Yana” KAMMI sangat disoroti karena banyak mengintervensi BEM REMA untuk memuluskan kepentingan organisasi ekstrakampus tersebut.

Bukan hal yang salah jika organisasi mahasiswa ekstrakampus berada di kampus, karena hak berorganisasi dan berserikat dijamin oleh Undang-Undang. Namun, yang disayangkan adalah hilangnya orientasi mengapa dibuatnya organisasi di kampus yaitu membuat perubahan yang lebih baik untuk mahasiswa.

Terlalu sempit jika kita berpikir bahwa yang bertentangan antarmahasiswa di UPI itu hanya antara BEM REMA dengan Senat Fakultas, tetapi lebih dari itu yaitu antarorganisasi ekstrakampus. Hal inilah yang barangkali dilupakan oleh aktivis mahasiswa UPI, terlalu sibuk memperebutkan kekuasaan lalu lupa siapa musuh mahasiswa dan siapa kawan mahasiswa.

Masalah di UPI yang barangkali mulai terlupakan yaitu, transparansi dan verifikasi golongan UKT yang tidak jelas; kualitas beberapa dosen yang buruk; penangguhan; bantuan biaya pendidikan yang dihilangkan; birokrasi izin kegiatan mahasiswa yang dipersulit (harus pakai PKM yang terkesan dipaksakan), gerbang UPI yang ditutup pukul 10 dan tidak adanya akses 24 jam berkegiatan di UPI menyebabkan mahasiswa tidak leluasa berkegiatan di kampus; keamanan UPI yang buruk; isu penggusuran kampung mahasiswa; jaminan pekerjaan lulusan UPI, dan masih banyak lagi.

Refleksi untuk gerakan mahasiswa UPI saat ini barangkali harus membaca lagi siapa kawan dan siapa lawan saat berjuang. Mengesampingkan ego pribadi/organisasi dan mengedepankan kepentingan seluruh mahasiswa UPI barangkali menjadi awalan yang baik untuk memperbaiki kondisi gerakan mahasiswa di UPI.

Sekali lagi, lawan terbesar mahasiswa UPI di kampus UPI adalah rektorat dan kebijakan-kebijakan yang tidak pro mahasiswa. [Ricky Pramaswara & Nur Hidayat Santoso]

7 Comments

  1. tidak ada kesimpulannya kang or teh,, harusnya mungkin dipertegas siapa lawan kita sebenarnya dan kawan sebenarnya.he terimakasih.

    ReplyDelete
  2. Mana yang penting dan mana yang tidak penting. Mantap smngat pemuda :)

    ReplyDelete