Benteng Terakhir Perjuangan Rakyat Desa Sirnaresmi

Teriknya matahari dengan udara yang membuat tubuh tak henti-hentinya mengeluarkan keringat, dua bangunan saling berhadapan dipisahkan sebuah jalan yang membentang dari arah Sukabumi menuju Pelabuhan Ratu. Kedua bangunan tersebut seakan menjadi simbol kekuatan dari kedua pihak yang saling bertikai. Bangunan kokoh dan menjulang tinggi yang diselimuti oleh tembok beton di atas lahan seluas 85 hektar milik PT. Semen Jawa berhadapan dengan bangunan sederhana yang terbuat dari kayu-kayu hasil dari swadaya masyarakat sekitar Desa Sirnaresmi Kecamatan Gunungguruh Kabupaten Sukabumi yang hanya mengandalkan lahan seluas kurang lebih lima meter persegi.

Bangunan sederhana bertuliskan Posko Penanggulangan Dampak Lingkungan itu memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat sekitar yang beraliansi mengatasnamakan Forum Warga Sirnaresmi Melawan. Setelah Pabrik Semen PT Semen Jawa yang menurut Country Director Nantapong Chantrakul memiliki konsep ramah lingkungan itu berdiri di sana, warga nyatanya terkena imbas negatif dari aktivitas-aktivitas pekerja di dalam area pabrik terutama aktivitas pembuangan limbah. Suara mesin dan lalu lalang kendaraan pabrik yang bising, kepulan asap yang mencemari udara sekitar, kekeringan air, dan udara yang semakin panas adalah beberapa dari banyak keluhan yang dirasakan oleh warga desa.

Rukmana, koordinator FWSM yang juga merupakan warga Sirnaresmi, tahu betul keresahan yang sangat dirasakan oleh warga. Misalnya pada hari jumat, 27 November 2015 pukul 07.00 WIB lalu telah terjadi ledakan dari dalam pabrik disusul ledakan kedua pukul 05.00 WIB esok harinya yang terdengar hingga radius kurang lebih 20 km. Ledakan tersebut sedikitnya menyebabkan tiga orang warga pingsan serta satu orang meninggal dunia dan semakin menambah kekhawatiran warga akan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi. Semenjak ledakan tersebut terjadi warga menjadi tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari.

Ia juga menuturkan keberadaan Pabrik Semen Jawa di wilayah Desa Sirnaresmi semakin mengancam kelangsungan hidup warga dengan kebiasaan pabrik yang membuang limbah berupa asap dan debu di malam hari tepatnya sekitar pukul 18.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB. Kekesalan warga mencapai puncaknya ketika pada tanggal 26 Desember 2015 sekitar pukul 19.20 terjadi pembuangan asap dan debu pekat yang menggulung di atas pemukiman warga hingga membuat warga Desa Sirnaresmi mengungsikan diri ke wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh asap. 

Warga tidak hanya diam dengan segala dampak yang dirasakan. Lewat bantuan WALHI Jabar dan LBH Bandung, warga mencoba menyampaikan segala aspirasinya kepada pemerintahan Kabupaten Sukabumi. Segala jalur yang mungkin dilakukan ditempuh meskipun mengalami beberapa penolakan. Salah satunya dengan mengajukan permohonan keterbukaan informasi publik terkait dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Hingga tuntutan tersebut dimenangkan oleh warga melalui Komisi Informasi Publik (KIP). Tetapi bukannya mendukung usaha warga dalam memperjuangkan haknya, Pemerintah Kabupaten Sukabumi justru mengajukan banding atas keputusan KIP. 

Usaha yang dilakukan oleh seluruh masyarakat yang tergabung dalam FWSM adalah usaha yang perlu didukung oleh seluruh elemen masyarakat. Karena keberhasilan perjuangan FWSM dalam menuntaskan permasalahan lingkungan hidup yang dialami oleh masyarakat Desa Sirnaresmi tidak hanya menentukan kelangsungan hidup masyarakat Desa Sirnaresmi saja, tetapi juga menentukan kelangsungan hidup masyarakat Indonesia. Praktik-praktik pengrusakan lingkungan oleh pemerintah dan perusahaan yang tidak bertanggungjawab tidak bisa dibiarkan menjamur di manapun, karena praktik-praktik curang bisa terjadi salah satunya diakibatkan oleh pembiaran terus-menerus akan praktik tersebut. [Dani Wardani]

0 Comments