Ekspedisi Susur Tanah Jampang Kabupaten Sukabumi

Laju kerusakan alam di Provinsi Jawa Barat menunjukan peningkatan yang signifikan. Laju kerusakan alam tersebut hampir terjadi di semua kabupaten. Untuk sekadar memberikan contoh, di Kabupaten Bandung khususnya di Kecamatan Kertasari kerusakan alam berwujud dalam banjir lumpur di sepanjang jalan umum yang sering digunakan. Jika diselisik lebih dalam banjir lumpur ini berasal dari kebun-kebun palawija yang berada dalam kemiringan lahan yang curam. Kebun-kebun palawija tersebut pada faktanya berada dalam wilayah yang seharusnya menjadi wilayah hutan. Namun, perubahan fungsi lahan ini tidak dapat dikendalikan sehingga berdampak pada kerusakan alam yang permanen.

Selain di Kertasari, misalnya di Kabupaten Cirebon. Masifnya pembangunan dan pengolahan batubara di sekitar pemukiman warga telah menyebabkan warga sekitar terpapar abu pembakaran batubara tersebut. Akhirnya, banyak warga yang terkena berbagai penyakit yang tentu saja berbahaya.  Lain di Cirebon lain pula di sepanjang pantai selatan yang membentang dari mulai Kabupaten Cianjur sampai dengan Kabupaten Tasikmalaya. Pengerukan pasir di sepanjang garis pantai tersebut telah menyebabkan kerusakan yang serius. Abrasi pantai menjadi ancaman yang tidak bisa lagi dihindari. Tidak ada lagi penghambat gelombang pasang air laut ketika gelombang pasar air laut yang besar terjadi. Hal tersebut setali tiga uang dengan pantai di wilayah utara Jawa Barat. Abrasi di sepanjang pantai Indramayu menjadi salah satu bentuk kerusakan yang dapat dilihat secara langsung. Walau di pantai utara telah dilakukan upaya penyelamatan pantai dengan penanaman tumbuhan bakau tetap saja hal tersebut belum bisa dijadikan jaminan bahwa abrasi pantai akan berhenti.

Begitu pula dengan wilayah tengah Jawa Barat khususnya yang dilewati oleh sungai Citarum. Seperti kita ketahui bersama bahwa di sepanjang sungai tersebut terdapat beratus pabrik yang membuang limbah tanpa pengolahan yang sesuai standar telah menjadikan Sungai Citarum dilabeli sebagai sungai yang terkotor di dunia. Namun, perlu diketahui bahwa masalah limbah tersebut tidak hanya terjadi di sepanjang Sungai Citarum, masalah limbah juga menimpa beberapa daerah di sekitar lingkungan Sungai Citarum. Untuk sekadar memberikan contoh dapat kita sebut daerah Kecamatan Solokan Jeruk sebagai contoh daerah yang terpapar limbah kimia yang sudah dalam kadar sangat membahayakan lingkungan sekitar.

Begitu juga dengan Kabupaten Sukabumi. Sebagai kabupaten dengan daerah yang batas selatannya berbatasan laut dengan laut lepas dan perbatasan utara yang berbatasan dengan Kabupaten Cianjur bukanlah daerah yang terbebas dari ancaman kerusakan alam. 

Berdasarkan beberapa kegiatan yang dilakukan oleh WALHI Jawa Barat teridentifikasi bahwa Kabupaten Sukabumi juga tidak lepas dari ancaman kerusakan alam yang serius. Salah satu kerusakan alam yang mulai terlihat adalah kerusakan alam yang disebabkan oleh keberadaan pabrik semen yang berada di wilayah Purabaya. Berkurangnya sumber air merupakan bentuk kerusakan alam yang akan dialami sebagai dampak dari keberadaan pabrik semen tersebut.

Selain keberadaan pabrik semen, keberadaan pertambangan emas di daerah selatan Sukabumi juga merupakan salah satu penyebab kerusakan alam di sepanjang Sungai Cimandiri. Sementara itu, di ujung selatan Sukabumi yang juga merupakan daerah sekitar hulu Sungai Cimandiri sedang berada dalam ancaman kerusakan yang serius dengan keberadaan tambang pasir di sepanjang pantai.

Beberapa  kasus kerusakan alam tersebut tentu saja bukan untuk dibiarkan namun untuk dicegah karena kelestarian alam merupakan hal yang tidak bisa lagi ditolak demi keberlangsungan ekosistem tempat kita tinggal. 

Namun demikian, tentu saja paparan kondisi kerusakan alam tersebut perlu dipelajari, diperiksa, dan dipetakan dengan serius. Upaya tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai kondisi yang terjadi. Dalam konteks yang lebih luas gambaran tersebut diperlukan guna mencari solusi dan langkah pokok dalam upaya melestarikan lingkungan. Berdasarkan paparan di atas maka kegiatan “Ekspedisi Susur Tanah Jampang Kabupaten Sukabumi” menjadi relevan untuk dilakukan.

Kegiatan ini bertujuan untuk memotret potensi sumber daya alam dan kerusakan alam yang terjadi di Kabupaten Sukabumi yang berada di daerah sekitar Sungai Cimanuk. Selain itu, memetakan aktor potensial di Kabupaten Sukabumi yang berada di daerah sekitar Sungai Cimanuk.

Harapannya kegiatan ekspedisi ini dapat memberikan potret potensi sumber daya alam dan kerusakan sumber daya alam yang terjadi di Kabupaten Sukabumi yang berada di daerah sekitar Sungai Cimanuk. Selain itu dapat memberikan peta aktor potensi di Kabupaten Sukabumi yang berada di sekitar daerah Sungai Cimanuk.

Kegiatan Ekspedisi Susur Tanah Jampang ini akan berlangsung dalam waktu 8-10 Januari 2015 dengan rute sebagai berikut.

Tim pelaksana kegiatan ini terdiri dari gabungan alumni UKSK dan anggota UKSK yang masih aktif di kampus yang terdiri dari sebagai berikut: (1) Dadan Ramdan (Ketua Rombongan), (2) Indriawan Surya Priatna, (3) Aang Kusmawan, (4) Nur Hidayat Santoso, (5) Dani Wardani, dan (6) Intan Ayu Ekawati.

Kegiatan Ekspedisi Susur Tanah Jampang ini tidak membuka sponsor dari lembaga manapun maka pendanaan untuk kegiatan ini diserahkan kepada seluruh alumni UKSK dan individu yang peduli akan kelestarian sumber daya alam di Kabupaten Sukabumi. [Aang Kusmawan]

0 Comments