Harapan Baru? Kurikulum Baru?

Oleh Furi Rachmah Nifira*

Begitu mendengar kurikulum di Indonesia, apa yang Anda pikirkan? Apakah benak Anda seolah-olah langsung mendengar, ganti menteri ganti kurikulum? Atau benak Anda langsung membayangkan sistematika pendidikan yang isi dan pelaksanannya dilaksanakan secara struktural demi tercapainya tujuan pendidikan? Jika Anda membayangkan pernyataan pertama, mungkin Anda termasuk orang yang latah dan sedikit judgmental tapi jika Anda membayangkan seperti pernyataan kedua, mungkin Anda termasuk orang yang senang berfilosofi karena kurang lebih pernyataan kedua adalah pernyataan definitif dari kurikulum.

Sebenarnya tidak ada yang salah mengenai kedua pernyataan itu karena keduanya memang merupakan fakta yang tak bisa dibantah. Kurikulum sering berganti sehingga menimbulkan berbagai asumsi bahkan terkadang cemoohan salah satunya seperti pernyataan di atas. 

Liku-Liku Kehidupan Kurikulum di Indonesia
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 19 menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dengan kata lain, kurikulum merupakan unsur terpenting dalam pendidikan karena di dalamnya memuat unsur-unsur mengenai bagaimana seharusnya praktik pendidikan yang ideal itu agar tidak melenceng dari tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. 

Sejarah membuktikan Indonesia telah mengganti kurikulum pendidikan berkali-kali. Lebih spesifik, Herliyati (2008) menjelaskan bahwa setelah Indonesia merdeka dalam pendidikan dikenal beberapa masa pemberlakuan kurikulum yaitu kurikulum sederhana (1947-1964), pembaharuan kurikulum (1968 dan 1975), kurikulum berbasis keterampilan proses (1984 dan 1994), dan kurikulum berbasis kompetensi (2004 dan 2006). Terakhir, berlaku kurikulum 2013 yang saat ini menuai berbagai respons tak hanya dari kalangan akademisi saja, kalangan non-akademisi pun ikut bersuara semenjak kurikulum ini diberlakukan. Kini kabar terbaru dari dunia kurikulum Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengusulkan pembaharuan kurikulum yang disebut kurikulum nasional.

Sumber gambar: http://www.mtsnklirong.sch.id/

Pergantian kurikulum ini tidak hanya didasarkan pada proses pembelajaran di sekolah melainkan sangat dipengaruhi hal-hal yang sarat akan unsur politis. Misalnya kurikulum sederhana pada era pemerintahan Soekarno yang lebih menekankan pembelajaran untuk menghasilkan peserta didik yang berjiwa nasionalis tinggi sementara pembaharuan kurikulum pada era pemerintahan Soeharto yang berorientasi pada peserta didik berjiwa pancasilais terlebih setelah tragedi G30S/PKI. Perubahan kurikulum itu terus dilakukan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih demi memaksimalkan tujuan pendidikan yang hendak dicapai. 

Akan tetapi, perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia tak pernah lepas dari pro-kontra. Salah satunya adalah polemik antara penerapan KTSP dan penerapan Kurikulum 2013. Masih segar dalam ingatan, begitu banyak pemberitaan yang menayangkan penerapan kurikulum 2013 yang terkesan terburu-buru sehingga dalam praktiknya pun menemukan berbagai kendala. Untuk merespons hal tersebut, Anies Baswedan menyiasati problem ini dengan menghadirkan kurikulum nasional sebagai langkah kuratif atas problem kurikulum 2013 yang dilaksanakan pertama kali pada era Muhammad Nuh. 

Apa yang Salah dengan Kurikulum 2013?
Pada hakikatnya, Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang lebih menekankan pada aspek karakter siswa. Kurikulum 2013 hadir sebagai langkah antisipatif pemerintah melalui pendidikan untuk menangkal berbagai nilai negatif akibat pengaruh era globalisasi. Oleh karena itu, pengarahan pendidikan yang lebih mengarah pada karakter siswa terutama untuk menanamkan nilai-nilai kebudayaan Indonesia (ketimuran) dianggap tepat terhadap perkembangan informasi yang berkembang sebebas-bebasnya. Berikut ini dihadirkan aspek-aspek yang menjadi ciri khas dari kurikulum 2013 itu sendiri.
No.
Kurikulum 2013
1.
SKL (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No. 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi yang berbentuk Kerangka Dasar Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No. 67, 68, 69, dan 70 tahun 2013.
2.
Pendidikan dasar dan menengah, dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, bertujuan membangun landasan bagi berkembanganya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur, berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif, sehat, mandiri, dan percaya diri; dan toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggungjawab.
3.
Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
4.
Di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-VI.
5.
Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP.
6.
Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (scientific approach), yaitu standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta.
7.
TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran.
8.
Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil.
9.
Pramuka menjadi ekstrakurikuler wajib.
10.
Peminatan (Penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA.
11.
BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa.
12.
Menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik secara proporsional. Penilaian tes dan portofolio saling melengkapi.
13.
Memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal motivasi mengajar.
(Sumber: www.academia.edu)

Secara isi, Kurikulum 2013 memuat aspek-aspek pendidikan yang lebih humanis karena pusat orientasinya terletak pada siswa. Guru merupakan fasilitator supaya siswa dapat mengembangkan minat dan bakatnya tanpa mengubur karakter bangsa yang diharapkan dapat terbentuk dari proses pembelajaran. Proses pengembangan diri (siswa) diharapkan dapat membangkitkan ide-ide kreatif dan inovatif sehingga kebutuhan bangsa ini terhadap generasi muda yang lebih baik dapat terpenuhi. Apalagi mengingat Peluang Emas Indonesia 2045 atau disebut dengan Demography Window yang memprediksi usia produktif masyarakat Indonesia pada tahun 2045 lebih banyak daripada usia anak-anak dan orang tua (lpdp10.wordpress.com). Hal ini tentunya harus bisa ditunjang dengan sistem pendidikan yang baik agar usia-usia produktif itu bisa membangun negeri lebih baik pula, baik secara ekonomi, politik, sosial, dan budaya. 

Akan tetapi, pada realitasnya, Kurikulum 2013 ini memiliki berbagai macam permasalahan dimulai dari fasilitas, proses pembelajaran, guru maupun siswa yang ujung-ujungnya berdampak pada respons sebagian orang tua yang ikut merasa resah karena menganggap kurikulum ini tidak lebih baik dari KTSP. Berikut permasalahan kurikulum 2013, seperti dilansir laman Kemendikbud, Kamis (11/12/2014) (news.okezone.com).
  1. Tidak ada kajian terhadap penerapan Kurikulum 2006 yang berujung pada kesimpulan urgensi perpindahan kepada Kurikulum 2013.
  2. Tidak ada evaluasi menyeluruh terhadap uji coba penerapan Kurikulum 2013 setelah setahun penerapan di sekolah-sekolah yang ditunjuk.
  3. Kurikulum sudah diterapkan di seluruh sekolah di bulan Juli 2014, sementara instruksi untuk melakukan evaluasi baru dibuat 14 Oktober 2014, yaitu enam hari sebelum pelantikan presiden baru (Peraturan Menteri No. 159).
  4. Penyeragaman tema di seluruh kelas, sampai metode, isi pembelajaran dan buku yang bersifat wajib sehingga terindikasi bertentangan dengan UU Sisdiknas.
  5. Penyusunan konten Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang tidak seksama sehingga menyebabkan ketidakselarasan.
  6. Kompetensi Spiritual dan Sikap terlalu dipaksakan sehingga menganggu substansi keilmuan dan menimbulkan kebingungan dan beban administratif berlebihan bagi para guru.
  7. Metode penilaian sangat kompleks dan menyita waktu sehingga membingungkan guru dan mengalihkan fokus dari memberi perhatian sepenuhnya pada siswa.
  8. Ketidaksiapan guru menerapkan metode pembelajaran pada Kurikulum 2013 yang menyebabkan beban juga tertumpuk pada siswa sehingga menghabiskan waktu siswa di sekolah dan di luar sekolah.
  9. Ketergesa-gesaan penerapan menyebabkan ketidaksiapan penulisan, pencetakan dan peredaran buku sehingga menyebabkan berbagai permasalahan di ribuan sekolah akibat keterlambatan atau ketiadaan buku.Berganti-gantinya regulasi kementerian akibat revisi yang berulang.
Penjelasan poin (3) ini adalah, Pada Pasal 2 ayat 2 dalam Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 itu menyebutkan bahwa Evaluasi Kurikulum untuk mendapatkan informasi mengenai: Kesesuaian antara Ide Kurikulum dan Desain Kurikulum; Kesesuaian antara Desain Kurikulum dan Dokumen Kurikulum; Kesesuaian antara Dokumen Kurikulum dan Implementasi Kurikulum; dan Kesesuaian antara Ide Kurikulum, Hasil Kurikulum, dan Dampak Kurikulum.Kenyataannya, Kurikulum 2013 diterapkan di seluruh sekolah sebelum dievaluasi kesesuaian antara ide, desain, dokumen hingga dampak kurikulum.

Permasalahan inilah yang menimbulkan Menteri Pendidikan beserta jajarannya di era Jokowi mengusulkan untuk menerapkan kurikulum baru bernama Kurikulum Nasional. Entah hal itu merupakan sekadar wacana atau mimpi pendidikan Indonesia di masa depan karena yang pasti topik kurikulum ini ramai diperbincangkan. 

Kurikulum Nasional Atau Kurikulum 2013 Berlaku Nasional?
Permasalahan yang terjadi pada saat kurikulum 2013 menimbulkan berbagai ide atau gagasan supaya permasalahan tersebut bisa diminimalisasi mengingat aspek-aspek yang dimuat dalam kurikulum ini dirasa sudah sesuai dan dapat mengantisipasi perkembangan zaman yang semakin canggih dan bebas. Oleh karena itu, wacana kurikulum nasional agaknya akan terwujud. Kurikulum nasional (Kurnas) yang dicanangkan pemerintah tak akan lepas dari kurikulum 2013 karena kurikulum ini merupakan hasil revisi dari kurikulum 2013. Dengan kata lain, kurnas adalah pengembangan lebih lanjut dari kurikulum 2013. 

Pada proses pengimplementasiannya, kurnas dilakukan secara bertahap. Kurnas dilaksanakan secara bertahap dari tahun 2016 hingga 2020 melalui tiga proses. Tahap pertama ialah pelatihan guru dan pendampingan. Guru memiliki peran penting dalam menyukseskan proses pembelajaran. Oleh karena itu, pemahaman guru tentang kurikulum yang akan dijalankan patut diperhatikan.

Tahap kedua pelaksanaan Kurnas ialah penerapan bertahap dan pendampingan sekolah. Sebagian besar sekolah masih menerapkan KTSP dalam proses pembelajarannya. Oleh karena itu, pengenalan Kurnas harus dilakukan bertahap pada beberapa tingkat kelas di sekolah disertai adanya pendampingan oleh pihak pemerintah. Dengan begitu, Kurnas akan mudah diimplementasikan secara menyeluruh.

Sumber: PPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2015
Tahap ketiga pelaksanaan kurnas ialah melakukan monitoring dan evaluasi. Monitoring dilakukan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan Kurnas. Apakah pelaksanaannya sudah sesuai dengan ketentuan atau belum. Jika belum sesuai, maka patut dilakukan evaluasi dan mencarikan solusi dari permasalahan yang ada. Melalui evaluasi diharapkan kekurangan yang ada dalam pelaksanaan Kurnas dapat segera diatasi (Fadhillah dalam d7news.com).

Adapun secara praktik, Kurnas diimplementasikan dalam beberapa tahapan di sekolah. Hal ini lebih mengacu pada kuantitas sekolah dalam penerapan kurikulum 2013. Berikut ada skema implementasi kurikulum nasional.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa jawaban yang tepat untuk pertanyaan subjudul tadi adalah kurikulum 2013 yang dinasionalkan dengan catatan ada beberapa revisi yang dilakukan pemerintah demi meminimalisasi permasalahan kurikulum 2013 yang timbul di lapangan. Kurnas diharapkan dapat mengarahkan pendidikan ke arah yang lebih baik dengan mengedepankan potensi-potensi siswa sebagai generasi pembangun bangsa. 

Akan tetapi,  jika dilihat dari tabel di atas, ada hal yang masih mengganjal di benak penulis. Tabel di atas memperlihatkan strategi pembagian sekolah untuk menerapkan dua kurikulum yang berbeda. Setiap satu tahun sekali, pemerintah menambahkan kuantitas sekolah pengguna kurikulum 2013 dan mengurangi kuantitas sekolah pengguna KTSP sehingga mau tak mau menimbulkan dualisme pendidikan. 

Dualisme pendidikan ini dapat menimbulkan berbagai macam asumsi dan reaksi. Sebagai contoh, dualisme yang terjadi di dunia persepakbolaan Indonesia menimbulkan kebingungan dan kerugian di beberapa pihak terutama pada pemain bola sendiri. Seperti halnya dengan sepak bola, dualisme dalam pendidikan pun menimbulkan kendala bagi siswa sendiri utamanya siswa SD karena SMP dan SMA di Indonesia semuanya telah memakai kurikulum 2013. 

Hal yang mungkin terjadi adalah pendiskriminasian terhadap proses belajar siswa dan adanya asumsi bahwa salah satu kurikulum lebih baik. Selain itu, kebingungan siswa pun pastinya sangat berpengaruh pada proses belajarnya. Dualisme yang terjadi memungkinkan dampak yang signifikan terhadap kondisi psikologis pendidikan maupun peserta didik. Seharusnya pemerintah lebih berpikir ke arah itu, karena pada hakikatnya kondisi psikologis siswa perlu diperhatikan lebih dalam untuk mencapai pendidikan yang harmonis. 

Tetapi apapun itu kecemasannya, penulis berharap kurikulum nasional ini dapat berjalan dengan baik tentunya didukung dengan partisipasi yang terintegrasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Semoga dengan adanya revisi dari kurikulum yang sebelumnya, Indonesia bisa menatap pendidikan yang berkualitas dengan harapan yang baru.

Jadi, apa harapan baru harus kurikulum baru? Semua jawaban Anda tergantung dari sudut pandang Anda memahaminya.

Sumber Rujukan:
  • http://d7news.com/implementasi-kurikulum-nasional-secara-bertahap/
  • http://news.okezone.com/read/2014/12/11/65/1077829/10-masalah-utama-kurikulum-2013
  • PPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2015



*Mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, staf Departemen Pendidikan UKSK UPI. Sedang tekun mendalami dunia pendidikan.

4 Comments

  1. the article that you created was very good, it must have been made by a very professional person. thank you for making a very beautiful website for us
    dominoqq online
    poker online
    bandar judi
    judi terpercaya
    agen domino
    situs bandarq

    ReplyDelete
  2. a website full of education because the information provided in this article is also good to read
    Situs Poker Online
    Agen DominoQQ
    Domino QQ Terpercaya
    Situs DominoQQ

    ReplyDelete
  3. Dapatkan prediksi angka dan hasil pengeluaran togel sgp dan togel hk hari ini :

    Data Pengeluaran Togel Online,
    Data Togel Sgp dan Hk,

    ReplyDelete
  4. can visit your website is very lucky, because all the articles that you have made by people who have very good skills in terms of making articles online to give a very wide insight for everyone including me
    Agen Dominoqq Terpercaya
    Agen QQ Domino Terpercaya
    Agen CemeQQ
    CemeQQ Online Terpercaya
    dominoqq online terbaik
    domino qq online
    bandar dominoqq
    judi qq domino online

    ReplyDelete