Indonesia Perlu Bilingual

Oleh Ari Nursenja Rivanti*

Sumber gambar: www.livescience.com

Di abad 20 ini Indonesia sudah berada dalam kawasan jalan raya bangsa-bangsa. Lokasi yang strategis dan mutlak menjadi sorotan negara barat terutama dalam hal kekayaan alam. Perkembangan kebudayaan Indonesia memang masih tergolong muda jika perbandingannya dengan negara barat. Indonesia yang baru berpuluh-puluh tahun merdeka harus berusaha bersaing keras untuk mendapat posisi yang sejajar dengan negara barat yang tentu saja perkembangan kebudayaan mereka sudah mencapai 600 tahun lamanya.

Kedatangan kebudayaan negara barat yang meliputi tentang organisasi sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan ilmu pengetahuan teknologi menjadi problem sosial yang menyeluruh untuk semua lapisan masyarakat di Indonesia. dari masyarakat lapisan atas sampai bawah dan dari soal-soal yang pesisir sampai soal-soal yang sangat sentral.

Para ahli kebudayaan perlu menginventarisasi hal tersebut untuk dijadikan perbandingan antara kebudayaan negara barat tersebut dengan isi kebudayaan kita sendiri. Dalam perbandingan tersebut perlu dianalisis proses saling pengaruh kebudayaan dan konsekuensi nya dari pengaruh tersebut. 

Dalam rangka hal yang sangat lumrah dan umum tersebut, baiknya Indonesia tetap bisa menjaga identitas nasionalnya, hal yang paling mendasar yaitu persoalan bahasa. Fungsi bahasa yang paling dasar adalah menjelmakan pemikiran konseptual ke dalam dunia kehidupan. Penjelmaan tersebut yang melandasi manusia untuk melakukan suatu perbuatan. 

Tentunya segala macam perbuatan akan membuahkan hasil, dan hasil tentunya akan menjadikan nilai. Nilai tersebut kadang menjadi pengaruh bagi pemikiran konseptual. Kemudian penjelmaan tersebut menjadi landasan untuk suatu perbuatan. Perbuatan ini menyebabkan terjadinya hasil, dan akhirnya hasil ini dinilai. Mungkin pula penilaian hasil ini mempengaruhi kembali pemikiran konseptual dan menyebabkan pengaruh selanjutnya yang struktur dan dinamika-dinamika serupa. Dengan demikian maka terjadi rangkaian bersambung terus-menerus.

Bila pemikiran konseptual tidak dinyatakan dalam bahasa, maka orang lain tidak akan mengetahui pemikiran tersebut. Ada kemungkinan pula, pemikiran langsung dijelmakan dalam perbuatan, yang kemudian ditiru oleh orang lain.

Kemajuan manusia berdasarkan rangkaian pemikiran konseptual yang dinyatakan dalam bahasa kemudian pelaksanaan konsep-konsep yang telah dinyatakan dalam bahasa. Pelaksanaan menjadi suatu hasil dan hasil ini dinilai. Oleh karena itu antara pemikiran dan bahasa ada pengaruh timbal balik. Kalau pemikiran dinyatakan dalam bahasa maka dapat diteliti apakah antara pemikiran dan bahasa ada kongruensi. Sebaliknya dalam rangka tujuan pengetahuan (knowledge) dan Ilmu Pengetahuan (science) maka perlu dilatih dalam descriptive dan pro-positional language yang memenuhi tata bahasa dan logika. Tergantung dari tingkat. kemampuan dalam menyusun descriptive dan propositional language, dapat dinilai. kemampuan pemikiran dalam lapangan penge­tahuan, ilmu pengetahuan. 

Di samping soal umum, Kemampuan bahasa asing menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat saat ini. Fenomena ini dikaitkan dengan era globalisasi yang terjadi di setiap negara di dunia. Globalisasi yang identik dengan tidak ada batasan bagi negara-negara di dunia menuntut suatu bahasa komunikasi universal. Saat ini bahasa yang dijadikan bahasa universal di dunia adalah bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa inggris, dijadikan prasyarat kesuksesan bagi seseorang di masa depan. Anggapan di masyarakat menyatakan bahwa orang yang mahir berbahasa asing akan lebih diterima di dunia kerja. Asumsi ini membuat berbagai institusi pendidikan menyediakan pendidikan bahasa asing bagi perkembangan bahasa anak, termasuk menyediakan program bilingual.

Bahasa pada dasarnya adalah kultural, yaitu terkait dengan kebudayaan. Konteks pembelajaran dikaitkan dengan proses pengenalan diri seseorang. Seseorang akan mengenali dirinya sendiri melalui beberapa tahapan.  Ia akan lebih cepat menguasai bahasa yang digunakan di sekitar lingkungannya karena bahasa itulah yang selalu didengarnya. Kesadaran ini disebut kesadaran kultural, yaitu pemahaman jati diri dan identitas seseorang. Jika seseorang  menyadari identitas dirinya maka ia akan tahu bagaimana harus bersikap dan membawakan diri.

Contoh kasus adalah kemampuan berbahasa yang tak memadai salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penganiayaan dan penyiksaan TKI di negara Saudi Arabia atau negara lainnya adalah persoalan bahasa. Para tenaga kerja banyak yang diberangkatkan dalam kondisi kepahaman bahasa yang minim. Hal ini jelas akan menjadi faktor penghambat komunikasi antara seorang pekerja dengan majikan. Oleh sebab itu hal penting yang harus dipenuhi seorang tenaga kerja yang akan diberangkatkan adalah persoalan bahasa, bahasa harus dikuasai sebab merupakan kunci utama dalam komunikasi. Bisa jadi kasus mengenai hambatan bahasa ini banyak terjadi kepada tenaga kerja illegal. Mereka yang berhasil pergi tanpa adanya ijin dan dokumen resmi dari pemerintah. Karena mayoritas dari tenaga yang legal atau memang diberangkatkan oleh PJTKI resmi mendapatkan pendidikan terlebih dahulu sebelum berangkat. Hal ini terutama dalam penggunaan bahasa.

Persoalan pendidikan yang masih minim terhadap para TKI atau TKW menjadi hal dasar yang dimiliki oleh para TKI dan TKW tersebut, termasuk dalam penguasaan terhadap bahasa asing sendiri. Hal ini berkaitan dengan penanaman bahasa asing jauh sebelum pemberangkatan untuk mengatasi berbagai macam kendala dalam segi bahasa. 

Pelatihan-pelatihan minim seperti les bahasa asing dengan materi yang sederhana yakni komunikasi sehari-hari, tatacara interaksi di ruang lingkup terkecil (rumah), sehingga dengan adanya usaha seperti berikut diharapkan dapat meminimalisasi kasus kekerasan yang disebabkan kejengkelan para majikan karena ketidakpahaman mengenai apa yang dikatakan. 

Hal lain mengingat Indonesia yang baru merdeka beberapa puluh tahun, dan menghadapi banjirnya kebudayaan Barat ini, ada tugas lain. Kebudayaan Barat sudah berkembang semenjak ± 1500 tahun dan sekarang pengetahuan dan ilmu pengetahuan sedang berkembang dengan pesatnya. Perkembangan selama 1500 tahun tadi disertai perkembangan bahasa yang mampu untuk menyatakan pemikiran yang melandasinya. Kita mengetahui, bahwa perkembangan tersebut menciptakan bahasa da­lam tiap segi pengetahuan yang berbeda dengan segi lain. Dan tiap segi mempunyai perkataan baru. Oleh karena kita menghadapi banjirnya ilmu pengetahuan dan penge­tahuan tersebut, maka mau tidak mau kita harus mempelajari soal-soal tersebut. Tiap ilmu pengetahuan menciptakan jargon tersendiri. Semua jargon pengetahuan dan semua simbul-simbul dari semua ilmu penge­tahuan harus kita kuasai pula. Tanpa menguasai jargon dan simbol-sim­bol tersebut tidak mungkin kita dapat menguasai pengetahuan tersebut. 

Dalam keadaan demikian sebenarnya kalau ditinjau secara logis, maka lebih cepat dan bermanfaat untuk Indonesia bila pelajaran bahasa asing diperdalam dan diperluas. Pelajaran bahasa Inggris diperdalam sebab ilmu pengetahuan memang menuntut bahasa descriptive dan propositional yang eksak. Diperluas, oleh karena banjir kebudayaan Barat melanda semua lapisan masyarakat. Sebaliknya, soal yang logis dan riil ini tidak sesuai dengan politik yang Indonesia sentris, dan mengabaikan logika dan realitas. Logika diabaikan oleh karena umum menganggap bahwa logika hanya menguasai lapangan falsafah dan teori ilmu pengetahuan. Tetapi kalau tiap keputusan mempunyai konsekuensi dalam masyarakat, maka konsekuensi adalah perkata­an lain dari logika. Sebab dalam logika selalu dibahas soal yang implisit, menjadi eksplisit dan proses analis dari implisit menjadi eksplisit adalah analisa menuju konsekuensi.

Adanya banjir budaya tersebut tidak hanya merupakan suatu soal akademis saja melainkan akan menginventarisir banjir budaya negerti kita, supaya bangsa Indonesia dapat menghadapi banjir budaya tersebut tanpa kehilangan identitas nasionalnya, yang mana dapat digunakan sebagai benteng ketahanan dari dunia luar.

Sumber:
  1. Suriasumantri. (2009). Ilmu Dalam Perspektif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
  2. Harian Intelektual Bahasa. 2015-09-17


*Pernah menjadi Bendahara UKSK, kini tinggal di Australia menjadi Indonesian language assistant for Victoria, Melbourne Australia 2016

0 Comments