Ada Apa di Balik Peringatan Bahasa Ibu Internasional?

Oleh Dani Wardani*

"Languages are the most powerful instruments of preserving and developing our tangible and intangible heritage" UN

Sumber gambar: uglobalcallblog.com

Bahasa ibarat sebuah kunci yang sangat pokok dalam kehidupan masyarakat di dunia ini. Dengan adanya bahasa, manusia bisa saling berinteraksi, saling memberi ilmu pengetahuan dan bisa saling memahami satu sama lain. Bahasa adalah alat dan manusia sebagai pengguna alat itu.

Berharga atau tidaknya sebuah kunci akan menjadi seksi untuk diperebutkan atau dihancurkan tergantung pada apa yang ada dibalik pintu yang akan dibuka dan kepentingan yang dimiliki oleh pengguna kunci tersebut. Apa yang ada di dalamnya bisa saja berupa sederet fakta sejarah pada sebuah wilayah, bongkahan emas, berlian, tanah yang subur dan atau budak-budak yang bisa dipekerjakan secara gratis. Untuk itu, apa yang dipikirkan atau apa tujuan dari pemilik dan pengguna bahasa akan memengaruhi jenis perlakuan yang diterapkan pada sesuatu dibalik pintu itu.

Macam-macam bahasa menurut cakupan wilayahnya dibedakan menjadi tiga yaitu bahasa internasional, bahasa nasional dan bahasa daerah atau lebih dikenal dengan bahasa ibu. Bahasa internasional adalah bahasa yang difungsikan sebagai alat untuk berkomunikasi antara suatu negara dengan negara lainnya. Bahasa nasional adalah bahasa yang secara sah dijadikan alat komunikasi antara warga negara di satu negara. Sedangkan bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan dalam satu daerah di sebuah negara. Tetapi bahasa daerah yang ada di suatu daerah tidak menjadi  penentu tunggal apakah bahasa tersebut merupakan bahasa ibu seseorang mengingat bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh seseorang pada masa perkembangannya.

Menurut data yang dipublikasikan tanggal 06 februari 2016 oleh Republika, saat ini ada 7000 bahasa yang digunakan oleh hampir 7000 milyar orang didunia. Sedangkan negara indonesia menempati urutan kedua negara yang memiliki jumlah bahasa terbanyak yaitu sebanyak 700 bahasa setelah negara Papua Nugini yang berjumlah 839 bahasa. dari ketiga jenis bahasa tersebut, bahasa daerah adalah bahasa yang paling berpotensi terancam punah. Data LIPI membuktikan bahwa sebetulnya indonesia awalnya memiliki 746 bahasa etnis di penjuru tanah air. Artinya sampai saat ini sudah 46 bahasa daerah telah punah di indonesia. di masa yang akan datang kemungkinan terparah tentang kepunahan bahasa tidak hanya akan terjadi di indonesia tetapi juga diseluruh penjuru dunia. Diperkirakan akhir abad ini hanya akan tersisa 10% bahasa dari seluruh bahasa yang ada dipenjuru dunia.

Menurut LIPI Meningkatnya potensi akan punahnya bahasa daerah didasari oleh faktor globalisasi yang berdampak pada wilayah ekonomi sosial budaya di Indonesia “Beberapa contoh kasusnya adalah Urbanisasi, perang antar suku dan peluang kerja ketika menggunakan bahasa daerah. Ada anggapan bahwa dengan hanya menguasai bahasa daerah ekonominya lebih sempit dibandingkan dengan menguasai bahasa indonesia atau bahasa asing. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar” tuturnya.

Memang, pada hakikatnya bahasa daerah memiliki wilayah perkembangan yang terbatas pada cakupan daerahnya. Bahasa adalah alat bukan suatu kebutuhan pokok. Dengan banyaknya bahasa di dunia, bahasa daerah seperti bahasa sunda hanya salah satu dari banyak pilihan bahasa untuk berkomunikasi.  Tetapi jika suatu bahasa dengan sengaja dihilangkan melalui suatu kebijakan yang reaksioner, hal itu akan menimbulkan dampak yang signifikan pada aspek ekonomi sosial dan budaya. Dalam hal ini masyarakat suatu daerah yang tidak memiliki sistem pendidikan yang mumpuni untuk mengakomodasinya akan rawan terkena penipuan penipuan yang bersifat politis. Karena memerlukan waktu bagi suatu daerah untuk menyesuaikan diri dalam mempelajari suatu bahasa yang baru.

Hari Bahasa Ibu Internasional dan Sejarah Kelam di Dalamnya.
Sebenarnya ancaman akan punahnya bahasa daerah telah menuai perhatian serius dari dunia internasional. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menanggulanginya. Salah satunya adalah usaha PBB melalui UNESCO dengan menetapkan tanggal 21 Februari sebagai hari peringatan Bahasa Ibu Internasional sejak tahun 2000 yang bertujuan untuk menjaga ingatan masyarakat di seluruh dunia akan pentingnya menjaga, mengembangkan dan melestarikan bahasa daerah sebagai salah satu faktor penentu tingkat keberhasilan suatu proses pendidikan. Ditetapkannya tanggal 21 Februari dikarenakan tanggal tersebut memiliki arti besar dalam sejarah yang mengingatkan pada peristiwa kelam tahun 1952 ketika 4 orang mahasiswa ditembak mati oleh kepolisian Dhaka pada saat menuntut pengakuan atas bahasa Bangla sebagai salah satu dari dua bahasa resmi yang ada di negara pakistan (kini bangladesh). Keempat mahasiswa itu bernama Abdus Salam, Rafiq Uddin Ahmed, Abul Barkat dan Abdul Jabbar.

Pakistan merupakan sebuah negara hasil pecahan dari india pada masa setelah perang dunia II. Munculnya negara pakistan dilatarbelakangi oleh permasalahan etnis agama. Saat itu umat muslim yang ada di india memilih untuk memisahkan diri dari india yang dominan beragama hindu. Kemerdekaan yang didapatkan oleh pakistan tersebut berimbas pada ketentuan pemerintah yang hanya mengakui bahasa Urdu sebagai bahasa yang sah sebagai bahasa nasional dan tidak memperbolehkan bahasa lain. Bahasa urdu dipilih karena dinilai lebih islami dan mirip dengan bahasa Arab yang merupakan bahasa Alquran dibandingkan bahasa Banga yang lebih memiliki corak hindu. Padahal pada saat itu populasi suku Bengali yang mengunakan bahasa Bangla berjumlah 54%. Kebijakan tersebut kemudian dikenal dengan politik suku Urdu untuk berkuasa di daerah pakistan yang kemudian dilawan oleh protes secara berkelanjutan dari gerakan mahasiswa universitas Dhaka sejak tahun 1948 hingga mencapai puncaknya pada tahun 1952.

Gerakan mahasiswa tersebut terjadi bukan tanpa alasan. Bahasa merupakan alat yang paling penting untuk dapat terlibat dan diakui dalam aktivitas politik. Daya politik yang kuat akan mendorong arah pengelolaan sumber daya dalam suatu negara. Dengan dihilangkannya bahasa Bangla, maka suku Bangali tidak akan bisa masuk dalam komposisi parlemen. Maka pada akhirnya hanya suku Urdu yang akan berkuasa mengatasnamakan negara pakistan. Selain itu, masyarakat Bengali akan buta literatur dan perkembangan zaman. Mereka tidak bisa mengatur lalu lintas ekonomi dan menjadi masyarakat yang termajinalkan.

Sungguh di luar logika apabila masyarakat Bengali yang notabene memiliki populasi yang lebih banyak dari masyarakat Urdu menjadi masyarakat yang sama sekali tidak memiliki peran dalam penyelenggaraan negara mengingat dalam kegiatan ekonominya masyarakat Bengali menyumbang ekspor 4582 milyar rupe dan hanya melakukan 2129 milyar rupe pada impornya pada tahun 1948-1952. Sedangkan masyarakat. Sedangkan masyarakat pakistan timur melakukan 3786 milyar rupe sedangkan nilai impornya mencapai 4769 impor pada tahun yang sama. Artinya  bangsa Bengali telah menyumbang keuntungan sekitar 2453 milyar rupe kepada negara yang kemudian sebanyak 983 milyar dari keuntungan tersebut digunakan untuk menanggulangi kerugian dari aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh suku Urdu.

Berdasarkan data hasil ekonomi dan kajian kebudayaannya, wajar bagi rakyat Bengali untuk menuntut haknya. Karena hasil kerja yang dilakukan selama 4 tahun kebelakang itu pada akhirnya tidak benar-benar diperuntukan untuk kepentingan rakyatnya tetapi hanya diperuntukan bagi suku yang berkuasa. Momentum perlawanan rakyat Bengali mencapai puncaknya pada tahun 1952 yang kemudian perlawanan tersebut dikenal dengan gerakan revolusi bahasa. Perlawanan berlanjut hingga rakyat Bengali mampu untuk berdikari di kaki sendiri pada tahun 1970 dengan mendirikan negara sendiri bernama bangladesh dan menetapkan bahasa Bangla sebagai bahasa nasionalnya.

Penyikapan Hari Bahasa Ibu Internasional di Indonesia
Keresahan dunia internasional akan pentingnya bahasa daerah juga turut diakomodasi oleh pemerintah negara indonesia. Di tingkat nasional juga telah diberlakukan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan yang didalamnya turut mengatur penggunaan bahasa daerah. Di tingkat daerah perlindungan bahasa daerah semakin dipertegas dengan adanya peraturan daerah provinsi jawa barat No. 14 tahun 2014 tentang perubahan atas perda No. 5 tahun 2003 tentang pemeliharaan bahasa dan sastra daerah.

Jika menimbang situasi kekinian tentang mulai berkurangnya pengguna Bahasa Daerah, pendidikan adalah alat yang paling sentral pada proses penanggulangannya. Pendidikan Bahasa harus berorientasi pada penyelesaian masalah dan bersifat dialektis baik itu dalam ranah formal maupun nonformal. Maka pembelajaran dalam bentuk ceramah harus dikurangi dan dialog harus ditingkatkan. Guru dan murid harus setara agar generasi baru memiliki banyak kesempatan untuk memproduksi idenya dan melakukan eksperimen. Karena bukan tidak mungkin di era informasi ini murid justru memiliki referensi yang lebih banyak daripada guru.  Langkah-langkah seperti ini dapat meningkatkan porsi praktek yang akan meningkatkan daya ingat, nalar dan kecintaan pada bahasa daerah sehingga produktivitas meningkat dan inovasi-inovasi akan bermunculan.

Inovasi-inovasi pelestarian budaya dan sastra daerah sebenarnya sudah muncul di indonesia. salah satunya di wilayah jawa barat yang menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa ibunya. Munculnya video-video pembacaan sajak, Fiksi mini, teater, animasi berwajah tokoh pewayangan adalah salah satu diantara beberapa inovasi yang perlu ditingkatkan lagi.

Perlu di perhatikan bahwa suatu pembaharuan itu bukan tanpa resiko. Munculnya budaya baru meskipun dapat meningkatkan penggunaan bahasa, dapat juga berpotensi menghapus makna penting di dalamnya. Karena bahasa pada hakikatnya merupakan sebuah alat untuk menyampaikan suatu gagasan. Maka baik atau buruknya sebuah kebudayaan tergantung dari gagasan atau nilai filosofisnya. Tetapi gagasan itu tidak kasat mata, maka bahasa menjadi suatu pengukur yang paling konkret untuk mengukur baik,buruk, benar atau salahnya suatu gagasan karena bahasa bisa didengar dan dibaca.

Gagasan di suatu daerah bisa berbeda dengan gagasan di daerah lain tergantung pada situasi sosial ekonominya. Misalnya di daerah A, gagasan kebudayaannya adalah berdikari di kaki sendiri sedang di daerah B gagasannya adalah tunduk pada penguasa daerah lain. Jelas kedua daerah ini memiliki perbedaan gagasan yang pada akhirnya akan terwujud pada sikap dan perbuatan. Daerah A akan mencoba mengelola sumber daya alamnya oleh kemampuan sendiri atau mengijinkan campur tangan daerah lain dengan catatan mereka tetap berkuasa sedangkan daerah B akan sepenuhnya memiliki ketergantungan pada daerah lain untuk mengelola sumber daya alamnya.

Tetapi suatu gagasan dalam sebuah kebudayaan masyarakat bisa menjadi bumerang bagi masyarakat itu sendiri jika masyarakat tersebut merupakan masyarakat yang dihasilkan oleh budaya dan bukan masyarakat yang menghasilkan budaya. daerah A akan diuntungkan jika gagasannya tetap dilaksanakan tetapi tidak untuk daerah B. Karena daerah B rentan akan penindasan dan penjajahan mengingat mereka tidak memiliki gagasan akan pentingnya kemandirian. Ketergantungan adalah sikap menyerahkan segala bentuk kekuasaan kepada penguasa. Maka sejahtera atau miskinnya daerah B akan tergantung pada watak penguasanya yang bisa saja berwatak bijaksana, tiran, otoriter, fasis atau bahkan tidak mengerti bagaimana mengatur rakyatnya. Terlepas baik atau buruknya satu gagasan dalam sebuah daerah, jika masyarakat tersebut adalah masyarakat yang dihasilkan oleh budaya, masyarakat tersebut tidak akan memiliki kemampuan bahkan memiliki keinginan untuk merubah kebudayaannya.

Berbeda halnya jika masyarakat tersebut adalah masyarakat yang menghasilkan budaya. Masyarakat yang menghasilkan budaya akan senantiasa memikirkan pembaharuan akan suatu gagasan. Suatu gagasan akan selalu berubah seiring dengan perkembangan jaman. maka gagasan A bisa menjadi A1, A2 atau bahkan bisa menjadi B. Dengan pola pikir seperti itu, masyarakat yang menghasilkan budaya juga tidak mempercayai bahwa gagasan A selalu menjadi A karena barangkali gagasan A dulunya adalah A- atau B.  Jika kembali pada analogi daerah A dan B, masyarakat penghasil budaya akan berfikir bahwa ada kemungkinan bahwa daerah B yang saat itu memiliki gagasan tunduk pada penguasa justru dimasa lampau memiliki gagasan berdikari di kaki sendiri.

Asumsi tetap akan menjadi asumsi jika tidak dibuktikan dengan fakta dan data. Untuk itu perlu ada pencarian data untuk mengetahui benar atau salahnya sebuah asumsi. Data bisa berupa artefak, tulisan dan lisan yang bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi satu data sejarah tidak menggunakan sembarang bahasa. pastilah suatu daerah mendokumentasikan peradabannya melalui bahasa daerahnya sendiri. Ini yang menjadi dasar kenapa bahasa daerah sangat penting untuk dipelajari. karena bahasa daerah menjadi jembatan untuk dapat memahami apa gagasan masyarakat kita sebenarnya? Siapa bangsa kita? Dimana wilayah kita? Sejak kapan kita menganut gagasan tersebut, kenapa kita menganut gagasan tersebut, kenapa kita menganut gagasan tersebut dan bagaimana gagasan tersebut bisa tetap ada dan atau berubah sampai sekarang? Dan bagaimana mengubahnya? Sehingga kita bisa mengenal apa yang disebut dengan jati diri bangsa.

Maka dari itu pentingnya menjaga bahasa daerah bukan hanya perkara menjaga potensi wisata dan kekayaan budaya tetapi juga menjadi dasar bagi kita untuk menetap atau beranjak dari suatu kondisi ke kondisi lain dengan kaki yang menapak pada jati diri yang utuh. Jangan sampai, sebelum kita dapat membuka jati diri kita, pintu jembatan itu terlanjur lapuk dan bahkan hancur.

Maka dari itu, masyarakat seharusnya juga sadar. Segenap usaha yang dilakukan oleh pemerintah pada akhirnya tidak akan mampu menanggulangi punahnya bahasa daerah apabila tidak ada partisipasi dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga bahasa daerah. Kesadaran tersebut harusnya tidak hanya ada dalam pikiran tapi juga harus tercermin dalam perbuatan. Karena, Bahasa daerah hanya bisa bertahan jika masih ada yang memakainya dan mengajarkannya secara turun temurun melalui lisan ataupun tulisan.  Dengan begitu akan muncul pergerakan secara horizontal (antar masyarakat) dan vertikal (pemerintah) yang harmonis dan efektif dalam usaha penyelematan bahasa daerah sebagai usaha untuk mentransformasikan nilai-nilai sosial kemasyarakatan.

Sumber referensi
  • http://www.ibtimes.co.in/international-mother-language-day-2015-why-it-celebrated-history-significance-624136
  • http://wawancara.news.viva.co.id/news/read/708092-semua-bahasa-daerah-terancam-punah
  • http://www.antaranews.com/berita/526767/pakar-25-bahasa-di-indonesia-hampir-punah
  • http://www.kompasiana.com/mochamadsyafei/21-februari-sebagai-hari-bahasa-ibu_54f84baba33311ef7d8b45a3
  • https://www.daysoftheyear.com/days/international-mother-language-day/
  • http://www.un.org/en/events/motherlanguageday/
  • http://asianhistory.about.com/od/bangladesh/p/bangladeshprof.htm
  • http://www.virtualbangladesh.com/the-basics/history-of-bangladesh/independence/history-prelude-independence/the-birth-of-bangladesh/


*Mahasiswa Pendidikan Bahasa Daerah, asal Sukabumi. Sedang tekun membuat disain game, untuk media pencerdasan di masyarakat.

0 Comments