Mahasiswa Bersatu (Mengenal Hak Demokratis Mahasiswa)

oleh Findani Felasari*

Salam Demokrasi!

Selamat datang mahasiswa, para penerus bangsa!

Hai, apa kabar? Gimana, senang sudah masuk ke kampus UPI dan mencopot gelar siswa menjadi mahasiswa? Gimana, betah di kampus? Merasa nyaman, atau merasa tidak puas dengan keadaan kampus? Coba dijawab, apakah sudah pas SPP atau UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang kamu bayarkan ke UPI dengan fasilitas dan kenyamanan yang kamu dapatkan?

Gimana, dosennya enak diajak kuliah, diajak belajar bersama? Atau dia ngasih banyak aturan yang kesannya dia tuh maha dosen banget? Atau bahkan dosen “paksa” kamu beli bukunya? Terus apakah bapak dan ibu yang kerja di departemen sudah melayani pertanyaan dan keluhan kamu dengan senyum, salam, sapa, sopan dan santun? Hayo!

Sumber gambar: koranpembebasan.org

Eh, kamu pernah dengar gak bahwa beberapa fakultas kita memiliki standar ISO (International Organization for Standardization)? ISO tuh suatu standar internasional untuk manajemen mutu, jadi fasilitas yang kita gunakan ini semuanya sejajar dengan yang dipakai setingkat internasional, wow kan? Jadi kalau kamu masih merasa ruang kelas kursinya butut, proyektor gambarnya gak jelas, tirai jendela kelas gak bisa digeser, di toilet gak ada sabun dan tisu bahkan airnya sering gak ada, kamu cocok bilang, wow sebelah mananya internasional?

Barangkali kamu sudah nyoba lari di lapangan merah (stadion UPI) atau berenang-renang ria di gelanggang? Bayar, ya? Udah pernah bertanya-tanya kenapa mesti bayar padahal udah bayar UKT yang katanya gak akan dipungut biaya apa-apa lagi? HAHAHA yang udah mikir gitu saya acungin keempat jempol saya deh! Ada yang bisa kasih tau saya kenapa bisa begitu ceritanya? Coba ngacuuung!

Tapi apakah sebenarnya, SPP atau UKT kita itu untuk biaya dosen, bapak ibu yang ramah, fasilitas bagus dan gratis? Seharusnya sih iya, tapi hari ini UPI dengan status PTN-BHnya, melakukan kebijakan sekenanya aja. UPI memperdagangkan segala fasilitas di dalamnya dan melalaikan fungsinya sebagai wadah mahasiswa untuk berkembang dalam pembelajaran akademik atau nonakademik; sebagai fokus Tri Dharma Perguruan Tinggi, tanpa menyusahkan mahasiswa dengan tetek-bengek keuangan dan perizinan kegiatan. Kamu juga pernah tanya gak ke birokrat UPI, UKT yang kita bayar itu rinciannya dipakai apa aja sih?

Jadi, gimana kampus UPI menurut kamu? Jika ternyata hal-hal yang kurang baik di atas dan merasa belum pas dengan bayaran SPP dan UKT kamu, apa kamu akan diam saja? Padahal kamu memiliki Hak, yang diberikan oleh Tuhan dan dilindungi undang-undang, loh!

Hak 
Nah, kalau menurut menurut Undang-Undang No. 39 tahun 1999 pasal 1 ayat (1) Hak merupakan seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Kita tuh sebenernya memiliki hak yang diberikan secara lahiriah dan diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak ini kemudian diatur oleh negara secara tujuan untuk melayani kepentingan rakyat, karena negara didirikan atas mandat atau amanat dari rakyat untuk memenuhi aspirasi dan kepentingan rakyat. Apalagi Indonesia menggunakan asas demokrasi untuk menjalankan negara ini.

Demokratis
Sebelum kita cari tahu apa itu demokratis, sebaiknya kita pahami dulu demokrasi, sebagai asal katanya. Demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan bersama untuk mencapai tujuan bersama. Nah sedangkan demokratis berarti bersifat demokrasi atau negara yang bersifat mengutamakan persamaan hak, kewajiban, dan perlakuan bagi semua warga negara, termasuk mahasiswa. Jadi dapat disimpulkan, kita sebagai mahasiswa memiliki hak untuk mengambil keputusan demi kepentingan bersama.

Hak Demokratis Mahasiswa
Gelar ‘maha’ pada mahasiswa memiliki arti yang sungguh luar biasa, maha berarti teramat, berarti besar dan hebat. Sebagai pemilik gelar ‘maha’, kita sebenarnya memiliki tanggungan yang sangat besar. Mahasiswa adalah bagian dari rakyat yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang jauh dari siswa, kamu mau tahu gak ternyata menurut survey BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2014, masyarakat Indonesia yang dapat mengenyam pendidikan tinggi atau kuliah hanya sebesar 0,65% dari berjuta-juta masyarakat yang hidup. 

Alokasi dana pendidikan Dalam  Undang Undang Dasar 1945 pada pasal 31 ayat (4) dengan jelas mengamanahkan bahwa Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional, artinya kita yang menempuh sekolah tinggi dibiayai oleh seluruh masyarakat Indonesia. Beban berat bagi kita, bahwa kita harus membalas kebaikan mereka dengan menjadi penerus bangsa demi menyejahterakan masyarakat. Apapun yang kita lakukan haruslah untuk mereka. Jika kamu masih berpikir kuliah hanya untuk sukses diri sendiri, apakah kamu nggak malu?

Hak demokratis mahasiswa berarti bicara mengenai peran sebagai agent of change, agen-agen perubahan. Menjadi penjembatan antara masyarakat dengan pembuat kebijakan. Pada hakikatnya kita (mahasiswa) merupakan bagian dari masyarakat, menjadi konsekuensi logis pula akhirnya kita akan menjadi bagian masyarakat dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan selama berkuliah untuk memperbaiki negara demi kesejahteraan bersama. Dapatkah kamu mempertanggungjawabkannya?

Sumber gambar: merdeka.com

Nah, sebelum lebih jauh ke jenjang masyarakat, kita tentu harus belajar memperjuangkan hak kita di lingkungan yang lebih dekat yaitu kampus. Secara umum, hak-hak demokratis mahasiswa meliputi hak atas jaminan pendidikan, bukan pendidikan dalam kelas saja loh tapi juga pendidikan di luar kelas. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, hak-hak mahasiswa itu dijelaskan loh, yaitu:
  1. Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan susila yang berlaku dalam lingkungan akademik.
  2. Memperoleh pengajaran sebaik-baiknya dan layanan bidang akademik sesuai dengan minat, bakat, kegemaran dan kemampuan.
  3. Memanfaatkan fasilitas perguruan tinggi dalam rangka kelancaran proses belajar.
  4. Mendapatkan bimbingan dari dosen yang bertanggung jawab atas program studi yang diikuti serta hasil belajarnya.
  5. Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan program studi yang diikuti serta hasil belajarnya.
  6. Menyelesaikan studi lebih awal dari jadwal yang ditetapkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku. (nah buat poin ini, kan ada tuh beberapa prodi di UPI yang kuliahnya udah dipatok 4 tahun dan gak bisa ngontak mata kuliah ke semester atas. Secara tidak langsung hak kamu untuk lulus kuliah kurang dari 4 gak diberikan oleh prodi (kampus) dong.)
  7. Memperoleh layanan kesejahteraan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
  8. Memanfaatkan sumber daya perguruan tinggi melalui perwakilan/organisasi kemahasiswaan untuk mengurus dan mengatur kesejahteraan, minat dan tata kehidupan bermasyarakat.
  9. Pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain, bilamana daya tampung perguruan tinggi atau program yang bersangkutan memungkinkan.
  10. Ikut serta dalam organisasi mahasiswa pada perguruan tinggi yang bersangkutan. (ini poin yang penting, kalau ada dosen atau birokrat kampus yang menghalang-halangi kamu buat berorganisasi, beliau sudah melanggar hak kamu loh.)

Nah ada lagi nih menurut Peraturan Senat Akademik UPI No. 001/SENAT AKD./UPI-HK/II/2014 bagian kedua pasal (5), yaitu setiap mahasiswa UPI berhak:
  1. Memperoleh layanan pendidikan, pembelajaran, dan layanan lainnya untuk mendukung kelancaran penyelesaian studi;
  2. Memperoleh layanan khusus secara prima bagi mahasiswa yang berkebutuhan khusus; (buat mahasiswa yang berkebutuhan khusus, semisal tunanetra ataupun tunadaksa punya hak untuk dilayani dengan prima loh)
  3. Memperoleh beasiswa dan/atau bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa yang memenuhi persyaratan dan ketentuan;
  4. Mendapatkan penghargaan dari universitas atas prestasi yang diraih baik dalam bidang akademik ataupun nonakademik;
  5. Menggunakan fasilitas universitas sesuai dengan peraturan yang berlaku;
  6. Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab sesuai dengan tata susila dan tata karma akademik yang berlaku dalam lingkungan masyarakat akademik;
  7. Menyelesaikan studi lebih cepat sesuai dengan peraturan yang berlaku; (nih ada lagi, mahasiswa punya hak menyelesaikan studi lebih awal.)
  8. Turut serta dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan universitas;
  9. Menyalurkan aspirasi yang positif dan konstruktif melalui organisasi kemahasiswaan intrauniversiter;
  10. Memperoleh dan menggunakan gelar sesuai dengan jenis dan jenjang program pendidikan yang ditempuh setelah dinyatakan dapat menyelesaikan studi dan dinyatakan lulus berdasarkan peraturan universitas.

Maka, saat pembuat kebijakan melanggar hak kamu yang dilindungi hukum itu, tidak bersikap demokratis dan tidak atas kebutuhan mahasiswa, perlu kita benahi. Gak pernah kan kamu diajak sama birokrat kampus untuk menentukan kebijakan? Padahal mahasiswa itu bagian dari civitas akademika yang paling banyak di kampus loh! Bisa apa sih kampus kalau gak ada mahasiswanya? Lalu bagaimana cara kita membenahinya? 

Mahasiswa Bangkit Bersatu
“Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM”  ­-  Undang-Undang No. 20 tahun 2003 bab III pasal (4)

Apa yang akan terjadi jika kamu; seorang mahasiswa menyatakan keluhan mengenai kursi yang butut sehingga membuat konsentrasi kamu dalam menerima mata kuliah terganggu? Apakah akan ditanggapi secara langsung atau penerima keluhan akan berpikir bahwa kamu anak yang manja? Tapi bagaimana jika semua mahasiswa menyatakan keluhan yang sama secara serentak? Hal mana yang akan membuat mereka percaya? Jelas yang semua mahasiswa serentak menyatakan, bukan?

Manusia sebagai makhluk sosial akan lebih kuat bergerak bersama daripada yang bergerak secara individu, dan perubahan tidak akan bisa dilakukan jika hanya seorang diri. Jangan meremehkan kekuatan kamu sebagai mahasiswa ya. Mahasiswa adalah pemuda-pemudi di usia produktif yang lebih kuat untuk berjuang untuk tatanan kehidupan yang lebih baik, lebih kuat daripada seorang anak, kakek, ataupun nenek. Selain kekuatan fisik juga lebih baik di tingkat intelektual, lebih baik daripada anak SD atau SMA, lebih matang secara kognitif dan pengalaman. Jadi apa yang kamu takutkan dalam menuntut hak-hak kamu? Kamu gak akan dosa kok kalau menuntut hak.

Nah sebetulnya menurut saya sudah banyak mahasiswa yang merasakan keresahan ini, namun masih dirasakan masing-masing, belum disatukan menjadi keresahan bersama. Mahasiswa yang menghimpun diri dan berjuang dengan yang tujuan bersama membutuhkan sebuah alat. Alat itu adalah organisasi. Organisasi akan menjaga dan membuat mahasiswanya berkembang tidak hanya dalam tataran akademik saja, namun pada ranah-ranah yang lebih luas dan membuka pikiran mahasiswa menjadi lebih kritis. Dengan bergabung dalam organisasi yang militan dan demokratis dapat menjadi alat jitu menumpas kebijakan-kebijakan yang sewenang-wenang. Kalau kamu tidak percaya, contohnya di kampus UPI pada tahun 2011 mahasiswa UPI tergabung bersama menolak parkir berbayar, hasilnya hingga hari ini kamu masih bisa gratis bayar parkir, kan? Masih belum percaya? contoh lainnya, baru-baru saja mahasiswa UPI membentuk Aliansi Mahasiswa menuntut untuk menetapkan mahasiswa yang lolos seleksi mandiri menjadi mahasiswa UPI walau tidak bisa membayar uang pangkal sekaligus menolak uang pangkal, hasil dari aksi tersebut yang hingga hari ini masih berjalan prosesnya, sudah berhasil membuat mahasiswa baru yang kesulitan pembayaran diberikan penangguhan, keringanan bahkan penghapusan dan mendapatkan besasiswa bidikmisi. 

Selain di UPI, kampus lainnya juga sama, seperti yang dilakukan UNJ, UGM, Trisakti, Unsoed perihal penolakan uang pangkal juga berhasil ditumpas saat semua mahasiswanya berkumpul dan berjuang demi menuntut hak-haknya. Jadi bagaimana sekarang sudah percaya kan mahasiswa bisa membuat perubahan kalau kita bersatu? Jangan takut dengan ancaman-ancaman dalam berorganisasi, negara dengan segala hukumnya menjamin kita dengan demokrasinya; kebebasan berpendapat, berekspresi dan berorganisasi sudah dilindungi Undang-Undang loh. Ingat, perubahan adalah karya massa, konsistenlah dengan garis perjuangan kita. Hidup mahasiswa! Mari Bangkit Bersatu!

Salam Demokrasi!

*Findani Felasari adalah Ketua Departemen P2M dan Advokasi UKSK UPI periode 2016 -2017 sekaligus Ketua Subbidang Parsospolmawa Hima Satrasia FPBS UPI 2016 yang ingin kenalan sama kamu. (HP. 08987890078)

0 Comments