Catatan Waktu Luang [Catatan Reading Group "Sekolah Itu Candu" karya Roem Topatimasang Pertemuan #1]

oleh Eka Rahmawati

Jumat (14/10), UKSK UPI mengadakan Reading Group dalam rangka meningkatkan minat baca sekaligus menambah wawasan pendidikan. Reading Group mulai dilaksanakan pada pukul 20.30 WIB di Sekretariat Bersama. Buku pertama yang dibaca dalam Reading Group adalah “Sekolah itu Candu” karya Roem Topatimasang. Kegiatan yang dihadiri sekitar 15 orang peserta di antaranya pengurus, anggota, dan alumni UKSK UPI ini dilaksanakan pada malam hari, peserta cukup antusias dalam mendiskusikan buku “Sekolah itu Candu”. Sehingga pendiskusian buku berakhir pada pukul 00.15 WIB.


Buku “Sekolah itu Candu” memiliki 14 esai tentang sekolah. Mulai dari asal mula adanya sekolah, sampai kondisi pelaksanaan sekolah pada saat ini. Pada Reading Group pertemuan pertama, kami membahas esai 1 berjudul “Sekolah: dari Athena ke Cuarnevaca” dan esai kedua, dengan judul “Sekolah Di sana-sini”. Pendiskusian dipimpin oleh Rian Rahmadi (Staf Departemen Pendidikan UKSK UPI). Pada awal kegiatan, Rian memaparkan sedikit pandangannya terhadap isi esai 1 dan 2. Hal itu bertujuan mengantarkan peserta diskusi untuk mulai masuk ke dalam konsep pemikiran esai 1 dan 2.  Kemudian, setiap orang membaca per halaman secara bergantian. Setelah satu esai telah dibaca, barulah kami mendiskusikan esai tersebut. 

Sekolah: dari Athena ke Cuarnevaca (esai pertama) menceritakan tentang awal adanya sekolah. Mulai dari makna sekolah, hingga proses berlangsungnya sekolah ketika awal dibentuk. Sekolah mempunyai makna mengisi waktu luang. Istilah sekolah berawal dari kata skhole, scola, scolae, atau schola, artinya waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar (leisure devoted to learning). Pada zaman dahulu, di Yunani, sekolah dilakukan di rumah. Para orangtua mengajarkan banyak hal pada anaknya. Namun, seiring berjalannya waktu, kesibukan dalam mencari kebutuhan semakin menguras banyak waktu, hingga waktu luang saat itu sangat terbatas. Maka dari itu, para orangtua membutuhkan pengasuh untuk mengajarkan anak-anaknya. Semakin lama semakin banyak pengasuh yang dibutuhkan. Maka sejak saat itu, tempat-tempat menyediakan pengasuh dengan aturan yang lebih tertib, dan orangtua memberi imbalan berupa upah. Pemberian upah untuk para pengasuh yang telah melaksanakan tugasnya membuat otak-otak kapitalis bereaksi. Mereka menganggap sekolah merupakan ladang baru untuk dijadikan pasar. Inilah yang terjadi hingga saat ini.

Cikal bakal sekolah formal terjadi pada abad ke 18 oleh Johann Heinrich Pestalozzi. Ia mengatur pengelompokan anak-anak asuhannya secara berjenjang, termasuk penjenjangan urutan kegiatan (kemudian disebut “matapelajaran”) yang harus mereka lalui secara bertahap. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan untuk pembaca dalam Deklarasi Cuernavaca 1971: “…apakah kita sedang bergerak ke arah pendidikan yang diperluas dan menyusun rencana dengan gagasan bahwa perkembangan individu adalah suatu praxis ataukah kita justru sedang menuju ke arah scolae dalam arti kata sebenarnya?”.

Munculnya Yunani sebagai negara yang dijadikan sumber utama kemunculan sekolah pada esai ini cukup menarik untuk didiskusikan. Pendiskusian ini terjadi ketika seorang peserta melemparkan pertanyaan pada forum, yakni “Yunani selalu dijadikan kiblat, bukan hanya dunia pendidikan saja, namun dalam ilmu pengetahuan lainnya pula sering dijadikan kiblat pengetahuan, jadi mengapa Yunani?”. Beragam pendapat dilontarkan oleh peserta diskusi. 

Masyarakat Yunani dianggap sering bertanya, hingga menimbulkan spekulasi bahwa orang-orang Yunani selalu mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya, dan hal tersebutlah yang mengantarkan Yunani pada peradaban yang kaya akan pengetahuan. Ketika mereka memperoleh banyak pengetahuan, maka perlu adanya dokumentasi agar pengetahuan bangsanya tetap terjaga. Hal tersebut terbukti dari banyaknya bukti-bukti dokumentasi ilmu pengetahuan yang terdapat di Yunani. Selain itu pula, Yunani dianggap sebagai sebuah bangsa dengan peradaban maju dan memiliki kekuasaan yang besar. Kekuasaan yang besar tersebut dianggap menjadi salahsatu alasan mengapa Yunani menjadi kiblat pengetahuan. Dengan mengandalkan kekuasaannya, Yunani melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah sekitarnya, sehingga kekuasaannya semakin luas. Kemudian ilmu-ilmu yang terdapat di wilayah yang dikuasai, diklaim oleh Yunani. Seperti pengubahan nama-nama ilmuwan (menjadi sesuai dengan nama-nama orang Yunani), dan pengubahan istilah-istilah ilmu pengetahuan.

Esai kedua melanjutkan cerita pada esai pertama, yakni menceritakan bahwa sekolah sudah memiliki jenjang. Pada esai kedua ini, kita akan mengenal sekolah-sekolah terbaik di luar maupun di dalam negeri. Di Indonesia, misalnya, kita mengenal Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan Institut Teknologi Bandung. Sekolah-sekolah  tersebut merupakan sekolah yang berada di pusat kota. Namun ada juga sekolah yang tidak dikenal meskipun berada di perkotaan seperti Akademi Jakarta. Paradigma bahwa sekolah itu harus memiliki kelas, jenjang, serta mata pelajaran sesuai kurikulum, membuat paguyuban atau kelompok belajar lainnya dianggap bukan sekolah. Karena sekolah adalah gedung, seragam, mata pelajaran yang sesuai dengan kurikulum, dan mempunyai sarana dan prasarana sekolah pada umumnya. Paradigma tersebut membuat sekolah-sekolah yang “tidak formal” menjadi tidak diminati. Ada yang tutup karena tidak ada murid, bahkan ada pula yang dipaksa tutup.

Kepopuleran sekolah ditandai dengan label akreditasi standar nasional ataupun standar internasional. Adanya standar tersebut membuat sekolah-sekolah yang tidak populer ikut-ikutan mengejar standar. Semakin populer, semakin banyak permintaan bangku di sekolah, maka semakin mahal pula biaya sekolahnya. Kenapa mahal? Karena barang-barang ilmu pengetahuan yang mutakhir perlu dihadirkan demi menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah. Sarana dan prasarana tidak boleh luput dari proses pencapaian standar, seperti penambahan kelas, penambahan bangku, serta pengadaan kelas eksekutif dan ekonomi. Tidak lupa aksesoris lainnya juga harus diatur supaya siswa terlihat indah, seperti baju, celana, sepatu, topi, dasi, hingga kaos kaki. Semua dibuat agar siswa menjadi seragam dan tidak beragam lagi.

Berhasilkah sekolah-sekolah terbaik dengan standar tinggi, guru-guru profesional, sarana dan prasarana mutakhir, serta seragam-seragam tersebut menciptakan manusia-manusia yang beradab? Pertanyaan tersebut bukanlah pertanyaan harus dijawab dengan cepat, tapi baiknya direnungi dahulu. Bukan soal sulit atau mudahnya pertanyaan tersebut, namun keadaan sekarang sekolah-sekolah sangat haus akan pemenuhan standar, dengan kebutuhan pemenuhan yang tidak berpihak kepada masyarakat banyak. Kepentingan apa yang dibawa sehingga sekolah harus memenuhi standar nasional/internasional?

Reading Group pertemuan kedua, buku “Sekolah itu Candu” karya Roem Topatimasang, akan dilaksanakan pada 21 Oktober 2016, pukul 19.30 WIB, di Sekretariat Bersama (samping lapangan softball). Pengantar diskusi masih oleh Rian Rahmadi. Jika dikaitkan dengan makna “sekolah” pada awalnya, Reading Group juga merupakan bentuk dari sekolah yaitu mengisi waktu luang untuk mencari ilmu pengetahuan. Jadi, mari mengisi waktu luang dengan bersekolah di kegiatan Reading Group UKSK UPI.

2 Comments

  1. Terimakasih telah membaca-ulas buku INSISTPress. Rehal buku ikut ditaut-link ke: http://blog.insist.or.id/insistpress/arsip/7256

    ReplyDelete
  2. Terimakasih telah mendisksikan buku SEKOLAH ITU CANDU/INSISTPress. Rehal buku ikut kami tautkan di laman: http://insistpress.com/katalog/sekolah-itu-candu-edisi-2013/

    ReplyDelete