Memang Sekolah Itu Candu [Catatan Reading Group "Sekolah Itu Candu" karya Roem Topatimasang Pertemuan #1]

Jika orang-orang menjawab sekolah itu untuk mencari ilmu, saya sepakat. Tapi bagi saya mencari ilmu bukan hanya di sekolah. halaman, taman, jalanan bisa jadi tempat untuk belajar.

Seluruh masyarakat Indonesia mengerti bahwa sekolah itu penting selain papan, sandang dan pangan. Sekolah penting agar manusia dapat hidup sejahtera dan menaikkan kesejahteraan dirinya. Menurut KBBI sekolah merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (menurut tingkatannya). Ini menjadi stigma masyarakat hari ini bahwa belajar harus ke sekolah. Tapi apakah benar belajar itu harus di sekolah? Mari kita telisik sedikit sejarah sekolah.

Pada zaman dulu orang Yunani kuno mengisi waktu luang (di sela-sela pekerjaannya) mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai untuk mempertanyakan dan mempelajari hal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan kata atau istilah skhole, scola, scolae, atau schola. Keempatnya punya arti sama: “waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar”. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para lelaki karena pada zaman ini lelaki begitu sibuk dengan pekerjaannya.


Setelah sekian lama pada akhirnya mengisi waktu luang diberlakukan untuk anak-anaknya terutama anak laki-laki yang nanti jadi penerus ayahnya untuk memimpin keluarga. Perkembangan yang cukup pesat membuat para orang tua sibuk dan tak ada waktu untuk mengajarkan anak-anaknya. Maka dari itu, mereka menitipkan anaknya kepada orang yang pandai atau tempat dulu mereka mengisi waktu luang. Anak-anak bisa bermain, berlatih, dan belajar sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Setelah belajar mereka akan kembali ke rumah dan mempraktikkan hasil belajarnya di rumah.

Matahari dan bulan terus bergantian serta kehidupan terus berlanjut. Para orang tua terbiasa menitipkan anaknya pada orang pandai hingga akhirnya menjadi lembaga asuh, karena begitu banyak anak yang dititipkan. Hal ini membuat orang yang pandai atau kita sebut saja pengasuh kelimpungan dan akhirnya merekrut banyak pengasuh. Lembaga ini pun mulai membuat peraturan yang lebih sistematis dan dengan jangka lama. Upah pun menjadi imbalan yang mereka inginkan dari para orang tua.

Zaman modern ini kegiatan tersebut dinamakan sekolah. Ah, begitulah kiranya hasil bacaan saya pada salah satu esai di kumpulan esai Sekolah Itu Candu karya Roem Topatimasang. Sekolah yang saya bayangkan hari ini begitu beda dengan hakikat pendidikan itu sendiri sebagai waktu luang yang membebaskan orang-orangnya memilih apa yang ingin pelajari. Hari ini menurut saya sebagai orang awam terlalu di sama ratakan apalagi SMA. Apa matematika dengan aljabar dan logaritmanya penting? Apa fisika dengan teori relativitasnya juga penting bagi saya yang hanya ingin belajar sastra? Oh, Tuhan jauhkan saya dari prasangka buruk.

Setelah membaca saya mencoba berdiskusi dengan kakak tingkat yang sudah membaca lebih banyak buku dibandingkan saya tentunya. Ternyata yang ingin berdiskusi cukup banyak sehingga kita bersepakat untuk mengadakan kegiatan Reading Group. Reading Group merupakan kegiatan membaca secara kolektif untuk tujuan membahas salah satu buku dengan cara bergiliran dan didiskusikan. Menarik sekali, saya jadi belajar menyimak dan berbicara konten buku tersebut (Sekolah Itu Candu). Apa sesungguhnya ini bentuk sekolah itu? Mungkin atau ini hanya bentuk sekolah lainnya?


Malam hari dengan gerimis yang luruh pada celah-celah langit, kami mulai membaca secara bergilir dan mengalir sesuai arusnya. Paragraf demi paragraf kami baca di gubuk yang cukup kokoh di Bumi Siliwangi tepatnya di Kampung UKM. Setiap orang membaca dengan caranya masing-masing. Ekspresif yang membuat kami tertawa, ada yang datar membuat kami ingin tidur bahkan ada yang tidak terdengar dan membuat kami berkerut kening. Namun kami tetap menikmatinya.

Setelah membaca esai pertama yang berbicara sejarah pendidikan yang sudah saya terangkan sebelumnya, kami mulai berdiskusi. Pertanyaan menarik keluar dari mulut yang umurnya lebih tua dari kami, “Kenapa Yunani selalu menjadi kiblat sejarah di dunia?”. Semua sontak mengiyakan pertanyaan itu. Pendapat-pendapat terlontar dari peserta diskusi sesuai dengan pengalamannya membaca buku atau hasil diskusi sebelumnya. Pendapat pertama, Yunani merupakan penghasil filsuf yang terkenal seperti Plato, Aristoteles, dan Sokrates. Pendapat kedua, warga Yunani memang kritis karena ketertindasan yang dialaminya sehingga mereka berontak lewat pemikiran-pemikiran yang visioner. Pendapat selanjutnya, Yunani merupakan salah satu negara yang menguasai dunia pada zaman sebelum masehi yang pada saat itu banyak mitologi yang dihadirkan sebagai control social yang dilakukan kerajaan untuk masyarakatnya serta kelas sosial diciptakan demi kepentingan kelas tertentu. Selanjutnya, ada yang berpendapat bahwa dokumentasi Yunani terhadap sejarah-sejarahnya cukup baik seperti prasasti dan naskah-naskah kunonya yang menjadi dasar ilmu pengetahuan.

Saya terkagum oleh teman-teman yang berpendapat dan akhirnya dapat menyimpulkan bahwa Yunani sangat kuat dalam ekspansi dalam bidang pendidikan sehingga ilmu modern semua mengacu pada Yunani. Kenapa saya berpendapat seperti itu karena sebelum Yunani yang merupakan negara barat, negara timur pun sudah menerapkan pendidikan. Bangsa Cina Purba kabarnya juga sudah memulainya pada 2000 tahun sebelum Jesus lahir. Dan konon, itulah lembaga sekolah tertua di dunia yang pernah diketahui sampai saat ini. Juga, kaum Brahmin India sudah membangun “Sekolah-sekolah Veda” mereka setengah abad sesudahnya. Sejarah pun mencatat bahwa hampir semua bangsa di dunia ini sesungguhnya memiliki tradisi pola pengasuhan anak dan lembaga persekolahannya sendiri-sendiri, tentu saja dalam ragam bentuk, sifat, dan sebutan yang berbeda-beda. Kami begitu menikmati proses Reading Group ini. Pendapat yang berawal dari teks dan memunculkan pengetahuan baru ini memang sungguh menyenangkan bagi saya. 

Waktu semakin larut, kami mulai membaca esai selanjutnya yang mendukung pernyataan saya di awal. Esai berjudul Sekolah Di sana-sini berisi tentang paradigma masyarakat tentang sekolah itu harus di kelas dan sistematis serta kurikulum yang jelas dan menghasilkan ijazah. Tapi dalam esai ini juga memperlihatkan bahwa ada juga sekolah yang tidak punya daftar mata pelajaran baku, jadwal jam yang resmi, kelas yang dibagi per tingkat atau per jurusan, tak menyelenggarakan ulangan atau ujian kolektif seperti lazimnya hari ini. Paling penting sekolah ini membebaskan  muridnya bebas memilih dan menetapkan sendiri apa yang ingin mereka pelajari dan dengan cara yang mereka anggap sesuai dengan dirinya.

Dicontohkan pada buku ini adalah Universitas Rockefeller di kota New York yang menghasilkan dua orang mahasiswanya dan 16 tenaga pengajarnya pemegang hadiah Nobel. Orang-orangnya adalah David Baltimore, Gerald Edelmaan, Theodosius Dobzhansky dll. Siapa mereka? Saya juga tak mengenal mereka karena yang saya kenal adalah David Beckham, Steven Gerard dan Theo Walcott yang semuanya pemain bola. Tapi saya berpikir kenapa mereka bisa tidak terkenal dalam mata pelajaran waktu SMA. Ternyata jawabannya simpel karena Universitas Rockefeller tidak terkenal dan tenggelam dalam bayang-bayang Harvard, Cambridge, Standford yang merupakan perguruan tinggi The Big Ten Amerika Serikat.

Saya pun akhirnya mengerti kenapa sekolah alternatif di Indonesia kurang diminati bahkan umurnya kurang dari 5 tahun. Sebabnya karena masyarakat hari ini berpandangan bahwa hal yang paling penting dalam pendidikan adalah ijazah dan nilai yang tinggi bukan karya yang telah diciptakan. Kami pun berpikir apakah kami termasuk mahasiswa yang mengejar ijazah atau mahasiswa yang ingin berkarya sesuai kemampuan kami? Sialnya saya masih terpenjara dengan lulus cumlaude dan tepat waktu tanpa berkarya. Tuhan tolong berikan kami amnesti agar tak lagi berpikiran sedangkal itu lagi. Sekolah ternyata memang candu: candu akan nilai, candu akan ijazah, candu akan ketidaksesuaian.

Tengah malam telah tiba, kami memutuskan mengakhiri kegiatan ini dan melanjutkan di hari Jumat berikutnya pada esai yang ketiga. Semoga teman diskusinya semakin bertambah.

0 Comments