Cara Wiji Merekam Sejarah

oleh Adhimas Prasetyo

Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas. -Marx

Dalam peradaban dunia, literatur mengambil peran yang sangat krusial. Kelangsungan suatu ideologi dapat ditentukan oleh ditulis tidaknya suatu pemikiran tersebut. Misalnya ketika Plato tempo tertentu tidak mencatat pemikiran dirinya dan juga gurunya, hal ini sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan filsafat modern saat ini. Sumber-sumber literatur merupakan pendokumentasian sejarah yang menyumbang sangat besar untuk peradaban dunia.

Sastra memiliki caranya sendiri dalam merekam suatu sejarah dibandingkan karya tulis ilmiah. Karya ilmiah lahir dari analisis yang objektif, sedangkan karya sastra lahir dari penghayatan masyarakat terhadap lingkungannya (Sapardi: 2010). Penghayatan masyarakat terhadap kondisi sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara, secara garis besar masyarakat dapat menerima atau justru menentang sebuah kondisi sosial. Kebebasan karya sastra ini yang membuat karya sastra tidak dapat digantikan oleh karya ilmiah. Bahkan penghayatan penulis dalam karya sastra merupakan fenomena tersendiri untuk menjelaskan kondisi sosial tertentu.

Sapardi juga memberikan beberapa pertimbangan terhadap karya sastra sebelum ditarik kesimpulan bahwa karya sastra merupakan cermin dari kondisi sosial. Di antaranya karya sastra belum tentu mengangkat kondisi sosial yang sedang terjadi saat karya itu ditulis, kebebasan berkreasi pengarang yang memengaruhi pemilihan fakta sosial, dan karya sastra bisa jadi merupakan sikap dari kelompok kecil masyarakat bukan keseluruhan masyarakat.

Sebagai perekam sejarah, karya sastra memberikan banyak sumbangsih terhadap peradaban dunia. Di Indonesia sendiri terdapat banyak literatur yang menggambarkan secara langsung kondisi sosial masyarakat Indonesia. Pada masa kerajaan terdapat kisah-kisah yang menceritakan kelangsungan kerajaan tertentu misalnya Kerajaan Majapahit yang tertulis dalam kitab Negarakretagama, dalam zaman kolonialisme Belanda terdapat Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Belanda yang ditulis oleh Multatuli, atau karya-karya Pramoedya yang getol merekam kisah hidup beberapa tokoh sejarah nasional.

Seperti yang telah disebutkan, bahwa penulisan karya sastra juga belum tentu mengangkat kisah saat karya tersebut ditulis. Misalnya Langit Kresna Hariyadi yang menulis ulang kisah kerajaan Majapahit dan Gajahmada, atau Pramoedya dengan Novel Arus Balik-nya. Pertimbangan dalam kasus ini berarti tidak membenturkan karya sastra terhadap kondisi sosial saat karya itu ditulis, namun terhadap latar waktu yang terdapat dalam kisah tersebut.

Fakta sejarah dalam karya sastra sendiri tidak lepas dari pertentangan kelas yang pernah dikatakan oleh Marx. Dalam kisah kerajaan-kerajaan di Indonesia misalnya terdapat pertentangan kelas dalam bentuk primitif (antara budak dengan pemiliknya), dari sinilah budaya feodal mengakar di Indonesia. Max Havelaar yang mengisahkan pertentangan antara masyarakat Hindia Belanda dengan Belanda sebagai penjajahnya. Pertentangan ini lahir berdasarkan kepemilikan alat produksi.


Pada era kapitalisme pasca kemerdekaan Indonesia, terdapat pertentangan kelas antara kaum ploretar dengan kaum kapitalis dan pemerintahan borjuasi. Banyak karya sastrawan yang merekam tentang pertentangan ini di antaranya adalah puisi-puisi Wiji Thukul.

Wiji Thukul merupakan penyair berlatar belakang kaum proletar, besar di antara buruh dan juga tukang becak. Wiji mendalami berbagai bidang kesenian, dari menulis puisi hingga bermain teater. Wiji juga pernah menjadi wartawan selama beberapa bulan namun sastra tetap menjadi hal yang disukai Wiji.

Lingkungan sosial tempat Wiji tumbuh memengaruhi sajak-sajak yang ditulis olehnya, dengan mudah Wiji menentukan keberpihakan karyanya sebagai kaum proletar. Wiji dikenal oleh masyarakat luas sebagai aktivis yang keras, dia menjadi buronan pemerintah karena dianggap subversif. Hingga pada tahun 1998 dia tidak pernah terlihat lagi oleh keluarga dan kerabatnya.

Estetika Puisi Wiji
Wiji Thukul merupakan penyair yang konsisten dalam menyuarakan keadilan, Wiji dengan gamblang menganggap kebijakan pemerintah saat itu menindas rakyat kecil. Misalnya dalam puisi berjudul Peringatan: 

Peringatan

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat bersembunyi 
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat berani mengeluh 
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

solo, 86

Puisi di atas merupakan pesan terhadap penguasa yang antikritik, beserta penggambaran kondisi sosial masyarakat. Hal ini merupakan sindiran terhadap penguasa saat itu terlihat dari konjungsi jika dan bila. Wiji memilih mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan, dibanding secara langsung mengatakan misalnya: //rakyat sudah berani mengeluh/ini berarti sudah gawat//.

Tanpa ada analisis secara rumit, kita bisa menarik benang antara puisi-puisi Wiji Thukul terhadap rezim Orde Baru, saat ke-otoriter-an diterapkan oleh presiden Soeharto. Meskipun Soeharto dikenal sebagai bapak pembangunan Indonesia, namun di saat yang sama korupsi, kolusi, dan nepotisme merajalela, banyak terjadi pelanggaran HAM, kebebasan pers dibatasi, kritik dibungkam, dan oposisi dilarang.

Kemiskinan dan kesenjangan sosial yang terjadi saat orde baru merupakan tanggung jawab pemerintah juga. Maka dari itu Wiji -yang juga berasal dari kaum bawah- menyuarakan keberpihakannya.

Dalam sajak yang lain Wiji memiliki sikap terhadap kesenian khususnya sastra. Seperti dalam puisi yang berjudul “Apa yang Berharga dari Puisiku”. //Apa yang berharga dari puisiku/kalau adikku tak berangkat sekolah/karena belum membayar spp/apa yang berharga dari puisiku/kalau becak bapakku tiba-tiba rusak/jika nasi harus dibeli dengan uang/jika kami harus makan//

Dalam puisi “Apa yang Berharga dari Puisiku” dengan tegas menjelaskan bahwa seni pada akhirnya harus kembali kepada masyarakat, hal ini bertentangan dengan pandangan l'art pour l'art. Sikap dari puisi-puisi Wiji Thukul juga dituliskan lewat sajak di bawah ini.

Para Penyair adalah Pertapa Agung

kaum gelandangan yang mendengkur pulas
seperti huruf-huruf kanji kumal di emper-emper pertokoan cina
tak pernah terjamah tangan-tangan puisi kita
sebab tak mengandung nilai sastra

keadilan adalah duniawi
bukan tanah ladang puisi
korupsi jangan terusik oleh puisi
puisi Cuma mencari jati diri
jangan dibuka mata batin lagi kemiskinan
dan penindasan
puisi jangan menuntut yang bukan-bukan

para penyair adalah pertapa agung
bermenung di dalam candi
kelima indra dan telinga sukmanya
cukup bagi Tuhan saja
jangan mendengar jerit kehidupan!
para penyair adalah pertapa agung
tergenggam nasibnya oleh nilai dan dewa-dewa SASTRA
mengurung diri di kesunyian candi
kelima indra dan telinga sukmanya terbelenggu tuli

para penyair adalah pertapa agung
jangan diganggu, jangan disambati

Lagi-lagi Wiji menuliskan puisinya dengan bentuk-bentuk satire, saat kondisi masyarakat tertindas dan penguasa semena-mena. Apakah penyair masih menjadi petapa (yang menutup diri dari kondisi sosial tersebut)?

Puisi Wiji Thukul merekam sejarah dengan bentuk estetikanya, yaitu dengan tampilan ekstrinsik yang didominasi oleh kata-kata lugas (denotatif) dengan cara menyindir dan menohok. Namun secara intrinsik mudah dihayati karena dapat kita bayangkan dan rasakan bersama. Puisi-puisi Wiji membicarakan hal-hal yang dekat dengan masyarakat dan mungkin masih relevan dengan saat ini.

Merekam Sejarah
Puisi Wiji Thukul merupakan kondisi sosial saat masa itu ditulis, hal ini yang menyebabkan Wiji menjadi buronan hingga akhirnya menghilang hingga saat ini. Wiji mewakili dirinya sebagai golongan proletar, puisi-puisinya berkisah tentang orang tuanya, kerabatnya, istrinya, dan anaknya. Pertentangan kelas yang ada dalam sajak Wiji merupakan gambaran sosial pada orde baru dan relevan pada masa itu.


Atas rekaman sejarahnya itu pada tahun 1991 Wiji dan W.S. Rendra dianugerahi Wertheim Encourage Award. Pada 2010 di saat ketidak-jelasan keberadaan dirinya, Wiji memeroleh Yap Thian Hien Award atas jasanya dalam pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia.

Grebstein dalam Sapardi mengemukakan beberapa poin terhadap sastra dan kondisi sosial, diantaranya adalah. Karya sastra tidak dapat dipahami selengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan, kebudayaan, atau peradaban yang telah melahirkannya; gagasan karya sastra sama penting dengan bentuk dan teknik penulisannya; setiap karya sastra yang dapat bertahan lama pada hakikatnya adalah suatu moral, baik dengan hubungannya dengan budaya, kelompok, atau individu.

Puisi Wiji Thukul berhasil merekam sejarah pada zamannya sesuai dengan pendapat Grebstein di atas. Lalu bagaimana kita merekam sejarah dengan cara menulis sastra, quo vadis?

0 Comments