Mahasiswa Masa Gitu?

oleh Mochammad Reza

Beberapa bulan lalu di beberapa media, baik media kampus maupun media mainstream, ramai memberitakan tentang penerimaan mahasiswa baru di berbagai Universitas. Mulai dari berita tentang kemeriahan acaranya, sampai kepada isu perpeloncoan yang menjadi ajang ‘balas dendam’ para senior. Tidak ketinggalan juga berita tentang penanaman ‘pola pikir’ kepada mahasiswa baru, yang akan menjadi fokus pembicaraan kita saat ini.

Beberapa mahasiswa baru yang menerima berbagai macam materi saat kegiatan kaderisasi mengeluh karena tidak sanggup menerima materi yang -mereka anggap- terlalu berat. “Kami ini masih maba (mahasiswa baru), Kang. Belum waktunya kami menerima ‘doktrin’ yang macam-macam. Kami masih ingin menikmati kegembiraan karena telah diterima di kampus impian.” katanya. Padahal setiap orang yang telah menyandang gelar mahasiswa sudah sepantasnya siap menanggung semua tanggung jawab dan peran sebagai mahasiswa, baik dalam bidang akademis, maupun dalam fungsinya sebagai kontrol sosial dan agent of change. Jika tidak dari awal menerima pemahaman seperti itu, lantas kapan penyadaran seperti itu tepat untuk dilakukan.


Banyak dari ribuan mahasiswa baru itu yang ‘salah kaprah’ memahami gelar yang baru saja mereka dapatkan. Mereka lebih sibuk dengan hal-hal akademik, seperti mengejar IP tinggi agar bisa lulus dengan cepat dan bekerja di tempat yang bergengsi. Jikalau pun mereka ikut organisasi, mereka—yang katanya ingin disebut aktivis—hanya sibuk merancang acara-acara ‘populis’ demi adu gengsi dengan organisasi lain layaknya event organizer. Mereka lupa ada permasalahan yang harus mereka selesaikan, mereka lupa ada rakyat yang harus mereka perjuangkan, mereka lupa ada tanggung jawab yang besar dibalik gelar sebagai “mahasiswa”, mereka lupa ada rakyat miskin yang ditelantarkan oleh pemerintah, mereka lupa itu semua.

Status sebagai agent of change tidak lagi dipahami semestinya, mereka memang membuat perubahan, tapi mereka lupa untuk siapa perubahan itu, dan bagaimana cara melakukan perubahan itu. Mungkin definisi agent of change yang selama ini mereka dapat berbeda dengan yang seharusnya, mungkin selama ini memang senior mereka di jurusan dan fakultas tidak memberikan definisi agent of change yang semestinya. Mungkin yang mereka pahami tentang agent of change hanya sebatas perubahan dalam hal-hal yang dianggap bergengsi, mungkin memperjuangkan rakyat tidak lagi jadi pilihan bagi mereka.

Mahasiswa oh mahasiswa, mereka lari ketika diajak diskusi tentang hari tani, mereka juga lari jika diajak kajian tentang permasalahan kampus dan negeri ini, apalagi ketika diajak aksi, mereka semua bersembunyi. Mereka lebih menikmati jalan-jalan dan selfie demi mempertahankan eksistensi. Jadi apakah “mahasiswa” kekinian tidak bisa lagi diandalkan untuk menjadi perubahan bagi negeri ini? Apakah rakyat tidak lagi bisa bergantung kepada mahasiswa jika diinjak-injak di negeri sendiri? Semoga kekhawatiran ini hanya sebatas ilusi. Amin.

0 Comments