Akses PKM jadi Sorotan Capres & Cawapres

oleh Rio Tirtayasa

Saat ini Rema UPI sedang melakukan pesta demokrasi yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden BEM Rema UPI. Pada pilpres BEM Rema UPI tahun ini, para Carpes dan Cawapres memberikan berbagai pandangan mengenai pentingnya akses PKM bagi mahasiswa.
Gedung Geugeut-Winda atau yang sering disebut Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UPI adalah tempat berkumpulnya organisasi mahasiswa (ormawa) UPI. Berbagai macam ormawa, seperti BEM, Himpunan, dan UKM lebih banyak mengadakan kegiatan di tempat ini. Akan tetapi tidak semua ormawa di UPI memiliki sekretariat di gedung PKM ini. Ada beberapa UKM yang sekretariatnya berada di luar PKM, seperti Teater Lakon di Kampung UKM di sebelah Lapang Softball UPI, Kopma di wilayah Lembur Bitung, Kompetitif di wilayah Gedung FPTK, dan Menwa di Eks Rumah dinas.


Capres dan Cawapres dari ketiga calon ini memberikan pandangannya tentang akses gedung PKM saat ditemui usai kampanye mereka di Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (16/11).

Fauzi-Asep Ahid 

Mereka mengatakan bahwa PKM merupakan sebuah rumah bagi kelancaran organisasi, di sana hidup otak-otak gerilya dan kreativitas. Permasalahan PKM adalah fasilitas PKM, ada beberapa orang, salah satunya KPK dulu, mereka mengatakan sangat miris sekali dengan keadaan PKM saat ini yang sangat gelap dan tidak terawat.

“Kalau di PKM Universitas lain, PKM itu bisa diakses 24 jam. Di tahun ini, sempat ada kajian terkait seberapa butuhnya akses PKM 24 jam. Jikalau memang butuh secara tertulis memang ada, ya kenapa tidak, tapi selama ini belum ada dan kalaupun sudah ada ini perlu diadakan forum untuk mengkajinya,” jelas mereka.

Dadan-Rahmat

Adapun tanggapan berbeda dari Dadan-Rahmat, mereka mengatakan bahwa sekarang akses untuk PKM bukannya dipersulit, tapi diperbatas dengan jam. Jika gedung itu dijadikan pusat kegiatan otomatis aksesnya harus lebih leluasa. Karena kalau sekarang jam 9 malam itu sudah ditutup, sedangkan mahasiswa itu pada umumnya beres kuliah jam 4 atau 5 sore. Berarti kegiatan mahasiswa hanya 4 hingga 5 jam saja, itu yang sangat disayangkan. Seharusnya ada penambahan waktu lagi. Jika tidak bisa diakses 24 jam, minimal hingga jam 11 ataupun 12 malam.

“Kami jelas sangat mengusahakan akses PKM 24 jam, cuma yang diharapkan kita (red-seluruh ormawa UPI) bisa secara bersama-sama mengusakannya,” ungkap pasangan nomor 2 tersebut.

Koswara-Luna

Pasangan nomor 3 ini ikut andil dalam memberikan komentarnya terhadap isu akses PKM. Mereka mengatakan bahwa PKM itu sangat penting, karena tempat kita berkumpul. Kalau tidak ada titik pusat ketika berkumpul, jalur koordinasi dan jalur komunikasi terpecah-pecah, seperti yang di PKM, di Kampung UKM, dan juga di daerah Kopma. Seharusnya rektorat atau universitas membangun kembali gedung PKM yang lebih layak dengan fasilitas yang mewadahi.

Bagi mereka seharunya dengan UKT yang tinggi alokasi dana untuk pembangunan gedung kegiatan kemahasiswaan harus lebih dioptimalkan.

“Akses PKM 24 jam ada sisi positif dan negatifnya. Hari ini kami belum bisa menentukan harus 24 jam atau harus seperti sekarang. Namun harus ada survei terlebih dahulu, sebenarnya yang menginginkan ini (red-akses PKM 24 jam) siapa? Ormawa atau segelintir golongan? Jadi harus ada survei atau data yang jelas dahulu,” jelas pasangan ini.

Pada akhirnya, gedung PKM ini memang sangat penting bagi kegiatan ormawa. Bahkan ketiga capres & cawapres pun sangat mengangap penting gedung ini. Ketiga calon ini juga mencoba mengusahakan PKM untuk bisa diakses 24 jam. Akan tetapi masih membutuhkan kajian atau suvei untuk nantinya diajukan ke pihak kampus.

Siapapun yang nantinya memenangkan pemilihan presiden dan wakil presiden BEM Rema UPI ini, sangat diharapkan mengusahakan akses 24 jam gedung PKM seperti universitas lain, pasalnya masih banyak ormawa yang butuh akses yang lebih luas untuk berorganisasi berkegiatan.

1 Comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete