Domba Peradaban: Jiwa Konsumerisme Sejak Dini *




Selamat datang di era kemunduran. Sudahkah anda keren hari ini?

Kita sedang mengalami ledakan konsumsi. Era ini menuntut kita untuk selalu membeli dan mengonsumsi barang, di mana industri menjadi panglima tertinggi yang tidak bisa terbantahkan. Menurut Jean Paul Baudrillard, konsumsi adalah sebuah perilaku aktif dan kolektif, ia merupakan sebuah paksaan, sebuah moral. Singkatnya, konsumsi merupakan sebuah institusi. Ia adalah keseluruhan nilai, yang fungsinya adalah integrasi kelompok dan kontrol sosial.
Herbert Marcuse dan Baudrillard merupakan tokoh yang membahas tema konsumsi dan budaya massa. Keduanya sepakat bahwa masyarakat kontemporer telah dirusak oleh konsumsi dan eksploitasi iklan. Mereka melihat adanya sebuah sistem hidup “pragmatis” dan mudah berfantasi dengan khayalan dimana manusia seolah-olah bahagia, namun dalam kebahagiaan itu terdapat kontradiksi akan ketakutan hidup tanpa uang dan tidak bisa membeli barang. Marcuse sendiri memandangnya sebagai sistem “satu dimensi”, bahwa kita hidup sekarang seperti sudah ditentukan dan apa yang kita kerjakan merupakan rancangan dari dunia industri. Bagi Marcuse, sistem ini menimbulkan keadaan dimana seseorang memuja barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkannya. Namun, karena barang itu menjadi sebuah keniscayaan sosial dan semua orang membelinya, orang pun tidak dapat menolak bahwa ia juga menginginkan eksistensi seperti manusia yang lain. Marcuse menyebutnya sebagai “kebutuhan palsu”.
Sementara Baudrillard menganggap bahwa masyarakat kontemporer telah dieksploitasi oleh kelimpahan barang-barang. Dahulu yang dieksploitasi oleh perusahaan adalah buruh di lingkungan produksi, namun dalam perkembangan industri modern, konsumenlah yang diperbudak oleh pasar. Pasar menjadi semacam agama baru bagi masyarakat kontemporer. Ia menjelma sebagai dogma dan doktrin yang sulit ditolak, namun ketika ia dikritik, seseorang sulit untuk keluar darinya. Karena ia menjelma sebagai sistem tanpa “negasi” dari sistem yang lain. Ia berdiri tunggal, ia tidak mempunyai musuh. Ketika ada musuh, ia dengan mudah menundukkannya dengan seperangkat ideologi dan jaringan internasional yang ia punya.
Menjadi domba peradaban di zaman ini adalah pilihan kita semua. Menjadi konsumen setia dalam artian konsumen yang sekonsumen-konsumennya atau sebut saja hamba dari mulai barang kebutuhan sampai ke pemikiran adalah cara termudah bagi kita agar sah diresmikan sebagai domba peradaban. Dalam benak saya selalu dihujami pertanyaan-pertanyaan, sekarang bergema di kepala: apa itu domba peradaban? Saya akan jelaskan sedikit, Domba peradaban adalah sejenis frasa metaforis yang hadir dari: domba (n) dan peradaban (n). Ini bukan domba dalam bentukan hewani, kita pun (yang membaca ini bisa jadi adalah domba peradaban)

Konsumerisme adalah wajah kita sebagai produk individu yang tak bisa lepas dari pasar. Baik pasar kebutuhan kehidupan sehari-hari maupun pasar manusia, pangsa kerja. Masalahnya dalam perjalanan hidup kita yang sebagai konsumen ini, selalu saja kita merasa keren jika apa yang kita inginkan dalam kebutuhan pasar kita sebagai konsumen terpenuhi.

Selain menjadi konsumen abadi, domba peradaban adalah seseorang yang diperalat si penggembela atau apapun pengaturan yang membuat domba itu tetap dalam jalurnya. Yaitu, “siap!”, “ah, sans we!”, “yang penting beres! Apapun caranya” Mental terima jadi dan tidak melihat segala sesuatu adalah hal yang diciptakan (bukan terciptakan) adalah salah satu cara menjadi domba peradaban. Selain menjadi konsumen  abadi, domba  peradaban juga dapat diafiliasikan dengan  orang yang menyedihkan.

Karena dalam  peradaban kita ini yang dipertaruhkan adalah uang bukan pengetahuan. Yang bermain adalah jabatan bukan kecerdasan. Yang hidup adalah titel bukan karya. Jangan kecewa kalau kampus tak memberi kamu rasa keingintahuan. Jangan pula marah jika kampus tak memberi kuliah yang menakjubkan. Jangan juga sedih jika kampus tak memberi kamu keberanian untuk menentang kemapanan. Dulu hingga sekarang kampus hanya untuk bertemu, berjumpa dan melatih dasar keyakinan. Tapi sekarang memang beda situasinya: kampus bisa menciptakan robot keyakinan buta dan lapisan anak muda yang percaya pada apa yang didengar ketimbang apa yang dibaca.

Sampai kita tak tahu mana orang yang punya pengetahuan dan mana yang sesungguhnya gila akan gelar. Ciri itu makin menggila ketika kampus berorientasi menciptakan mahasiswa kaya ketimbang mahasiswa kreatif dan bijaksana. Kalau kampus jadi rusak kulturnya maka pengetahuan bukan untuk diperdalam, diamalkan dan mengubah keadaan. Pengetahuan hanya jadi lampiran sebuah gelar, tragedi yang melahirkan korban dan ilmuwan yang merusak kehidupan.
Mari kita lihat lebih dalam soal kampus, kampus memberi kamu pengalaman yang tak dapat kamu peroleh di mana-mana. Diantaranya adalah organisasi. Sangkar yang indah dan memikat untuk anak muda yang berani. Dilatih di sana kamu untuk melawan apa yang memang sepatutnya kita lawan. Memusuhi korupsi, pelanggaran hak asasi manusia hingga membela mereka yang ditindas. Disanalah kamu dilatih memimpin, peduli dan melindungi. Tak ada mata kuliah satupun yang bermuatan itu semua. Di organisasi pintu untuk mendapatkan pengetahuan mengenai itu. Maka jangan ragu-ragu untuk masuk ke dalamnya. Jangan kuatir karena disanalah kamu akan tersesat di jalan yang benar. Walau kamu tak dijanjikan IP tinggi atau menang lomba, tapi kamu memiliki pengalaman yang lebih berharga ketimbang jadi juara lomba-lomba.
Tak sedikit orang yang punya pengalaman organisasi kini menikmati kenangan manis. Kenangan ketika memprotes tindakan aparat, menentang keputusan yang tak adil dan membangkang pada kebijakan yang merugikan. Bukan hanya kenangan tapi mereka menuai hasil yang sepadan: lebih berani mengambil posisi, tak gampang berkhianat pada pendirian dan menghargai kebebasan mengemukakan pandangan. Walau tak sedikit pula yang melacurkan keyakinan. Setidaknya, organisasi membimbing keyakinan untuk percaya kalau kebenaran itu bukan retorika kosong. Dan kebenaran juga akan memberi kamu semangat untuk mencurigai semua kepalsuan. Itu sebabnya organisasi adalah kuliah yang sesungguhnya. Kamu bukan diajarkan untuk meraih prestasi, tapi kamu dibimbing untuk memahami bahwa dasar hidup itu adalah solidaritas dan kepedulian. Dasar hidup itu yang akan membawamu pada keyakinan untuk selalu memihak ketika ada lapisan yang dizalimi dan tak mudah buatmu untuk membenarkan tiap putusan yang bawa binasa. Hanya organisasi yang meyadarkanmu kalau hidup itu tak bisa dilalui seperti binatang: kawin, beranak, cari makan, dan mati.
Kini langit kampus itu akan jadi saksi pertumbuhan keyakinanmu. Jejak jejak muda seperti apa yang hendak kamu toreh. Tiap jejak itu akan jadi butiran keyakinan yang kelak akan diam-diam membentukmu. Jika sikap berani yang kamu tanam niscaya kamu akan berkembang tanpa rasa takut. Kalau sikap empati yang kamu semai kelak kamu akan jadi manusia yang peka dan mudah tersentuh. Oleh penderitaan, terhadap ketidak-adilan dan atas semua bentuk kebohongan. Maka jadilah mahasiswa yang tak hanya berharap meraih gelar sarjana. Juga jadilah mahasiswa yang tak berambisi menggapai nilai tinggi saja. Ingat-ingatlah bahwa tiap anak muda bisa menoreh sejarah berharga untuk diwariskan pada generasi berikutnya: Tan Malaka memberi ilham tentang Kemerdekaan 100% tanpa kompromi, Soekarno meneguhkan hutang budi bangsa pada kaum marhaen serta Semaoen meneguhkan hikayat kaum terpelajar yang menolak berhamba pada kaum feodal. Mereka diilhami bukan oleh buku kuliah, tapi petualangan dan perjumpaan dengan masalah. Maka tak heran mereka dengan akrab ide-ide progresif yang dimuat dalam karya-karya kiri.
Jika jadi mahasiswa selalu harus waspada, maka apa bedanya kamu dengan para serdadu? Dimana slogannya selalu pakai istilah harga mati dan ucapannya dibumbui oleh bahaya. Maka sejak jadi mahasiswa buanglah kebiasaan tak terdidik itu. Yang selalu mudah percaya oleh ancaman dan gampang meyakini sesuatu yang tanpa bukti. Tantanglah semua yang kamu anggap tidak ada dasar sejarah dan akal. Beranikan dirimu untuk menerobos tabir-tabir ketakutan yang diwariskan oleh penguasa masa lampau. Meski waktumu tak panjang berusahalah untuk mendobrak tatanan buntu ini. Sebab jika kamu mampu meruntuhkan tembok itu, sedikit saja, maka sesungguhnya kamu sudah memberi jalan bagi petualang berikutnya. Mahasiswa baru yang terus terlibat menyudahi tatanan yang usang.
Jangan takut oleh persoalan dan jangan cemas oleh masalah. Dari dulu anak muda selalu punya soal serupa. Sekali lagi, tolaklah dirimu yang diutus menjadi domba  peradaban. Hadapi lingkungan yang bahaya dengan orang yang punya pikiran tak sama. Maka tinggalkan kepercayaan palsumu tentang gelar. Berfikirlah tidak untuk dirimu sendiri. Beranjaklah pada potensi dan kesempatan yang kini ada. Kuliah memang tidak untuk tinggal dan duduk di kelas saja. Kuliah hanya pengantar untuk membawa kamu berpetualang kemana-mana. Kuliah hanya awal untuk menguji keberanian dan keyakinan. Maka ingatkan dirimu agar kampusmu tak menjadi penjaramu. Yakinkan bahwa dirimu tinggal di sini untuk sementara maka buatlah perubahan sebisa-bisanya. Perubahan yang membuat kampus tak lagi jadi tempat wisata dan belajar bukan dengan ceramah semata. Ingatlah banyak orang hebat lahir di kampus tidak dengan modal kepatuhan tapi keberanian untuk melawan keadaan.


* Judul Esai yang dimuat di mading Hima Satrasia dengan judul “Menolak Menjadi Domba Peradaban Sejak Dini”

0 Comments