Tujuh Alasan Kenapa Kamu harus Berorganisasi! :no 5 akan membuat anda tercengang.


Tulisan ini akan diawali dengan membahas angka tujuh. Kenapa harus tujuh sebenarnya saya tak punya penelitian pasti ada berapa jumlah alasan seseorang harus beroganisasi. Mungkin ada 83.476.723 alasan, yang jelas angka tujuh dipilih karena angka itu merupakan jumlah piala yang didapatkan AC Milan di Liga Champion Eropa–mengingat saya adalah seorang milanisti—. Selain itu angka kesukaan saya adalah delapan maka saya meyakini jika sebelum mencapai di angka delapan saya akan melewati tujuh terlebih dahulu. Saya menebak para pembaca tulisan ini bertanya terus apa hubungannya angka tujuh dengan selasaan. Ah tidak perlu dipusingkan saya juga sedang mencari alasannya.


Kata kenapa dalam kbbi berarti kata Tanya untuk menanyakan sebab atau alasan, sedangkan alasan itu sendiri berarti dasar; asas; atau hakikat. Maka selain informasi mengenai angka tujuh yang tidak penting bagian ini pun sebenarnya demikian. Berbicara mengenai alasan, bagi saya setiap orang akan memiliki alasannya masing-masing dalam melakukan sesuatu. Termasuk mahasiswa yang sampai detik ini masih mau berorganisasi. Namun banyak juga yang sampai detik ini mahasiswa ogah-ogahan untuk berorganisasi. Hal ini saya ketahui dari lama sebenarnya, namun beberapa hari yang lalu ketika saya berdiskusi para ketua organisasi mereka mengeluhkan hal yang sama yaitu kader atau anggota baru.

Hal tersebut sebenarnya wajar terjadi mengingat secara ekonomi, organisasi mahasiswa akan susah memberi keuntungan secara materi, semisal uang, barang berharga, make up ataupun ipk yang tinggi secara langsung atau cuma-cuma. Maka alasan untuk berorganisasi harus bisa ditawarkan setiap anggota organisasi terdahulu. Saya rasa hal tesebut sangat susah dilakukan jika kita tak mengetahui apa itu berorganisasi.

Berorganisasi berasal dari kata ‘ber’ dan ‘organisasi’ yang merujuk tindakan satu atau sekelompok orang yang berpartisipasi aktif dalam organisasi. Sementara itu organisasi, adalah sekelompok individu yang  berada dalam satu wahana dan terikat secara program, tujuan, dan kepentingan yang sama. Oleh karena itu, dalam praktiknya, organisasi harus memberikan dampak positif, baik secara luas dalam masyarakat, maupun anggota nya sendiri.

Definisi organisasi sebagai wahana yang menyatukan beragam kepentingan individual dapat juga dipahami dalam konteksnya sebagai alat memperjuangkan hak mahasiswa. Hal ini dapat ditemukan dalam sejarah gerakan mahasiswa, yang mana perubahan terjadi karena munculnya kesadaran dari setiap mahasiswa berkumpul dan memiliki satu tujuan.

Sebagai mahasiswa, selain belajar tentang ilmu, juga harus bisa memahami realita sosial-masyarakat, apa yang sedang berkembang di masyarakat, apa yang menjadi persoalan masyarakat, sehingga eksistensinya sebagai manusia terpelajar benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat. Untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat, tidak bisa didapat dari bangku kampus atau silabus perkuliahan. Untuk itulah keberadaan organisasi mahasiswa sangat penting.

Organisasi mahasiswa merupakan sebuah wadah yang bisa menunjukkan pada kenyataan sosial bahwa masih banyak kemiskinan, penindasan, diskriminasi dan ketidakadilan. Dimana Negara abai terhadap kenyataan rakyat bawah, untuk itulah organisasi mahasiswa sangat dibutuhkan sebagai alat perjuangan untuk mencapai tujuan. Keberpihakan organisasi mahasiswa terhadap rakyat juga penting sebagai penilaian apakah organisasi mahasiswa itu serius dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, melihatnya dengan mengetahui orientasi gerakan mahasiswa tersebut apakah benar memperjuangkan rakyat?

Dari beberapa penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa organisasi merupakan alat untuk dapat melakukan perubahan dan perjuangan. Maka semakin banyak anggota organisasi akan semakin mudah melakukan tujuannya. Namun Kekinian organisasi menemui kendalanya sehingga terkesan mati atau bahkan monoton.

Banyak masalah yang sampai saat ini masih saja belum selesai untuk diperjuangkan. Semisal UKT yang sampai saat ini masih menjadi polemik secara penentuan, Uang Pangkal yang semakin membengkak nominalnya, fasilitas berbayar, jam malam, hingga kebebasan akademis yang masih semerawut. Menghadapi serangkaian masalah tersebut, pertanyaan krusial layak diajukan, faktor apa saja yang membuat ogrnaisasi hari ini mengalami kegagapan menindaklanjuti situasi yang hadir?

Pertanyaan di atas tentu akan menghasilkan kemungkinan jawaban lebih dari satu, akan tetapi mari kita ambil contoh dari metode kaderisiasi organisasi. Melalui pengamatan saya, organisasi hari ini minim sekali melakukan pembaharuan metode kaderisasi. Organisasi masih bergantung pada system kaderisasi lama yang kontekstualitasnya tidak diuji kembali. Misalnya organisasi lebih memfasilitasi kaderisasi untuk kebutuhan anggotanya sendiri dibanding masyarakat sekitarnya. Atau dengan masih langgengnya relasi tidak setara antara mahasiswa baru dengan para seniornya dengan dalih etika dan dialektika. Setidaknya dua faktor tersebut bisa beberapa faktor penyebab organisasi gagal berdinamika dengan kondisi. Padahal organisasi adalah benda mati yang digerakkan oleh subjek atau dalam hal ini adlah mahasiswa.

Lantas, apa organisasi memang sudah tak relevan? Tentu tidak bagi saya, sebab organisasi adalah keniscayaan hidup manusia sebagai makhluk sosial, dan karenanya memiliki keterbatasan apabila bergerak sendiri. Oleh karena itu, manusia selalu membutuhkan satu sama lain. Lantas, kalau organisasi pada hakikatnya selalu relevan, apa yang harus dilakukan agar membuat organisasi tetap dapat berdinamika dengan kondisi? Dalam hal ini, menganalisis kembali situasi terkini yang hadir menjadi kuncinya. Dengan kembali menaganalisis kondisi terkini yang hadir, organisasi dapat menyesuaikan program dan ritme geraknya. Kesesuaian program dengan kondisi masyarakat (dalam hal ini mahasiswa) akan kembali menumbuhkan kesadaran mahasiswa akan urgensi dari hadirnya organisasi.

Sebab jika tidak demikian organisasi akan dihantui kematian. Sebab akan ditinggalkan kader atau penerus. Makah al-hal yang biasanya didapatkan seseorang ketika berorganisasi akan hilang pula. Hal yang bisa didapatkan untuk kamu-kamu semua beorganisasi menurut pengalaman saya adalah pengalaman yng tidak didapatkan dibangku perkuliahan, pengetahuan yang diminati, kemampuan bersosial, kemampuan berkomunikasi yang lebih baik, relasi yang lebih luas sebab di organisasi kamu akan bertemu banyak orang dengan berbagai macam karakter dan pemikiran, selanjutnya fast track tentang beasiswa atau proyekan-proyekan kampus juga menjadi keuntungan tersendiri.

Tapi sekali lagi keuntungan yang paling baik adalah untuk memperjuangkan kebebasan akademik. Dalam Hal ini mahasiswa membutuhkan alat yang tepat. Dan alat itu adalah organisasi. Hanya dengan berorganisasi lah mahasiswa bisa mengaspirasikan tuntutannya dan bersama seluruh massa mahasiswa yang tergabung dalam organisasi bisa memperjuangkannya secara bersama. Karena perubahan tidak bisa tercipta melalui segelintir orang. Tapi perubahan sangat ditentukan oleh kekuatan massa, karena perubahan sesungguhnya adalah karya massa. Dengan bergabung dalam organisasi massa yang militan, patriotik dan demokratis, massa mahasiswa akan bergerak melalui program-program aksi yang konkret untuk memecahkan persoalan yang dihadapi dan menggapai tuntutan-tuntutan hak-hak demokratisnya. Sebab organisasilah yang menjadi alat yang tepat untuk melakukan hal tersebut daripada waktu luang dipake hal-hal yang ga penting seperti bikin konten yutub atau ig story yang sampai …………………………….

Agar tidak menjadi clickbait soal no. 5 bikin ada tercengang maka saya akan menjelaskan maksud hal tersebut. Tercengang adalah menganga keheranan, dan heran adalah merasa ganjil. Maka yang membuat kamu-kamu merasa ganjil adalah semua alasan berorganisasi di dalam tulisan ini tidak dinomori. Sehingga hal tersebut mengakibatkan kalian untuk tercengang.  

Namun dari sekian alasan untuk berorganisasi di atas saya masih banyak keganjalan, lantas apakah alasan di atas masih relevan? Atau memang organisasinya yang sudah tak relevan untuk berdiri? Atau memang kader sudah tidak lagi memiliki minat? Atau memang merasa aman, damai, tentram dan nyaman jadi mahasiswa? Mari Berdiskusi!


0 Comments