Dua Fragmen Membalas Khoiri Setiawan



oleh Rafqi Sadiqin

tulisan ini ditujukan untuk membalas tulisan khoiri (baca: di sini)


Melihat Baterai Organisasi
Menjadikan ekses sebagai bahan wacana itu menarik, tapi lebih menarik kalau setidaknya jadi lebih maju. Oke, ada beberapa kaitan perang wacana dan tulisan, pertama dia bisa menjangkau sesuatu dengan lebih focus. jadi mun maneh bodo, nya maneh katingali bodona, wkwk, da emang geus kuduna perang tulisan euy, meh rame. plis aja.

Di dalam esai gue setaun yang lalu tentang "domba peradaban" sepertinya makin hari makin menjadi, salah satunya adalah daya tawar yang digembleng organisasi kampus, kalau Khoiri pernah bilang waktu itu terkait apa-apa saja yang harus membuat maru ikut organisasi kampus, kalau saya mau bilang bagaimana maru bisa terlibat aktif meretas wacana, yang mana pada intinya, dia juga nanti bakal berada dalam lingkaran organisasi.
Yang miris bukanlah tingkat keanggotaan yang berkurang, walaupun itu tentu saja miris melihat massa. Tapi yang mirisnya mana sih wacana yang berseliweran sana-sini. Dalam artian, saya sudah muak juga melihat sesuatu yang rutin dari pergerakan hari ini: ngobrol, ngopi, konsolidasi, aksi. ngan hanjakal, paperna eta-eta deui, kajianna eta-eta deui. cik men, dunia sudah beuki gering. dan kajian kita teh can asup-asup acan jadi ubarna
Teknisnya seperti ini, mudah saja, ada pewacanaan, kritik, kalau tak sesuai, tuliskan, atuhda portal ayeuna mah loba. Hanjakal n hanjakal we karena argumen sudah banyak berseliweran dicampur bacot-bacot media sosial yang tidak pakai pijakan fokus dan fokus terhadap masalah
Melihat Gagasan Khoiri
Melihat potensi si kapitalisme yang sudah mendarah daging sampai ke percakapan kita sehari-hari
ketika uing nginjeum korek, dia memiliki kepemilikan. Jika kepemilikan itu secara sengaja atau tidak didistorsi ku nu ngarana curanrek bisa dibilang itu adalah kejahatan bidal bidang 1. Apa begitu juga terkait dengan organisasi? sistem take and give nya harus lebih jelas? kalau berpijak kepada daya tawar organisasi di mata maru, atau dalam kaitan lainnya adalah dengan tujuan berkuliah pada umumnya.
ini terkait dengan sejarah Universitas yang mau gue sambung-sambung kemari, di mana posisi ilmu pengetahuan sebagai ekses, melihat realitas, pewacanaan, karena kapitalisme sudah begitu akut mencela kebebasan pikir, maka di universitas sebagai ladang lari bagi yang bisa bebas berpikir kemudian menjadi hal-hal yang menarik
tapi atuda di mana ieu menarikna?
ketika seperti ini misalkan, sebentar lagi kita akan dihadapkan dengan SM, dengan evaluasi tahun lalu di mana kekurangan data adalah kuncinya, Tapi sialnya, solusi yang kita ciptakan itu-itu saja, kalau terkait dengan dialektika, semua pengertian dan pengembangan konvensi makna akan tetap sama jika tidak terbentur dengan pewacanaan. Atau singkatna mah, mun teu diubek ku arurang, mun teu disusun yeuh naon wae alternatifna. potensialnya adalah kemon atuh tipada nungguan aya ruang, terus ngadagoan sesi tanya jawab, barijeung sok poho tea ning di tengah-tengahna, urang narulis.

0 Comments